pelantar.id – Empat Warga Negara Asing (WNA), terdakwa kasus penyelundupan sabu-sabu seberat 1,03 ton dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (30/10). Keempat terdakwa dinyatakan terbukti bersalah, membawa sabu yang ditaksir senilai Rp1,5 triliun itu dengan kapal MV Sunrise Glory ke wilayah Republik Indonesia.

Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan untuk keempat terdakwa itu dikawal ketat oleh 17 polisi bersenjata lengkap dari Polresta Barelang. Tim JPU terdiri dari Kepala Kejari Batam Dedie Tri Hariyadi, Kasi Pidum Kejari Batam Filpan Fajar D Laia, dan Jaksa Kejagung RI Albina Dita Prawira ini menuntut hukuman mati kepada Chen Chung Nan, warga negara Taiwan.

“Perbuatan terdakwa membuat nama Indonesia menjadi buruk di dunia internasional seolah-olah wilayah Republik Indonesia ini tempat peredaran narkoba. Apalagi, terdakwa tidak mengakui perbuatannya,” kata Albina Dita Prawira membacakan berkas tuntutan.

JPU juga menyatakan terdakwa Chen Chung Nan telah terbukti telah melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana narkotika.

“Menjatuhkan hukuman pidana dengan terdakwa Chen Chung Nan dengan pidana mati,” ujarnya.

Tuntutan serupa juga dibacakan oleh JPU untuk terdakwa penyelundupan sabu atas nama Chen Chin Tun, Huang Ching An dan Hsieh Lai Fu.

“Keempat terdakwa terbukti bersalah dan melanggar pasal 114 Ayat (3) Jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” ujar Albina.

Usai pembacaan tuntutan dari JPU, selanjutnya Ketua Majelis Hakim Muhammad Chandra yang didampingi hakim anggota Yona Lamerosa Ketaren dan Redite Ika Septina menyatakan, sidang ditutup dan akan dilanjutkan satu minggu ke depan, dengan agenda pembacaan pledoi atau nota pembelaaan dari para terdakwa.

“Jadi sudah ditetapkan, nota pembelaan untuk terdakwa Chen Chung Nuan dan Chen Chin Tun akan dilaksanakan minggu depan. Sedangkan untuk terdakwa Huang Ching An serta Hsieh Lai Fu akan dilaksanakan dua minggu lagi,” kata Muhammad Chandra.

Chandra menegaskan, semua yang disampaikan dan dilakukan di dalam persidangan, sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Untuk diketahui, keempat terdakwa ditangkap dalam kapal MV Sunrise Glory oleh KRI Sigurot 864, Rabu 7 Februari 2018 sekitar pukul 15.30 WIB. Hasil pemeriksaan di tempat, dalam kapal itu ditemukan narkoba jenis sabu dengan berat 1 ton lebih.

Empat WNA dan barang bukti sabu seberat 1 ton lebih yang ditemukan di Kapal MV Sunrise Glory, diperlihatkan saat rilis perkara di Mako Lanal Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (10/2/2018).
Foto:Kompas.com/Hadi Maulana

Penangkapan berawal saat KRI Sigurot-864 milik TNI AL sedang patroli di perairan Selat Singapura. Petugas kemudian mendeteksi adanya kapal nelayan berbendera Singapura melintas di luar jalur pelayaran dan memasuki wilayah perairan Indonesia.

Ketika dicegat dan diperiksa, ditemukan narkotika golongan I jenis sabu sebanyak 1 ton yang disimpan dalam 41 karung beras di palka kapal. Sabu tersebut ditaksir bernilai sekitar Rp1,5 triliun.

Saat proses pemeriksaan awal, dalam dokumen disebutkan bahwa MV Sunrise Glory adalah kapal yang berasal dari Indonesia. Namun, untuk mengecoh polisi, kapal ikan dengan 4 orang awak berkewarganegaraan Taiwan tersebut mengibarkan bendera Singapura.

 

Reporter : Fathurrohim
Editor : Yuri B Trisna