pelantar.id – Pengelola lahan Kaveling Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau mencuri listrik PLN Batam. Listrik itu dialirkan ke 15 rumah dengan beban biaya mulai Rp100 ribu sampai Rp250 ribu per bulan per rumah.

Pencurian listrik itu terungkap saat Tim Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) PT PLN Batam menggelar operasi di wilayah tersebut, Selasa (13/11/18). Dalam operasi itu, petugas memutus sambungan kabel listrik sepanjang lebih dari 2 kilometer. Dari kabel itu, listrik mengalir ke sedikitnya 15 rumah warga.

Ketua Tim Operasi, Agus Hasraf mengatakan, manipulasi aliran listrik itu terjadi di Kaveling Sambau Makmur, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa. Pengelola kaveling tersebut mengambil langsung aliran listrik dari jaringan PLN di unit kWh Meter Kumpul yang berada di pinggir jalan Hang Lekiu, Nongsa.

Listrik lalu dialirkan dengan kabel menuju pemukiman warga melalui hutan dan lahan kaveling kosong. Kabel tersebut hanya disangga dengan bambu-bambu dan disangkutkan ke pohon-pohon hingga ke wilayah RW 04 Kaveling Sambau IV Makmur yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari tepi jalan utama

“Ini jelas ilegal. Selain itu, ini juga berbahaya. Jika kabelnya jatuh ke tanah, dan ada yang kena setrum, siapa yang tanggung jawab? Apalagi kalau hujan, sangat berbahaya,” katanya.

Petugas memutus kabel sambungan listrik ilegal di Kaveling Sambau, Nongsa, Selasa (13/14/18).
Foto: PELANTAR/Fathurrohim

Dalam operasi itu,  PLN Batam menurunkan 9 tim, setiap tim terdiri dari 3 orang. Masing-masing tim menyusuri kabel listrik ilegal dari pinggir jalan sampai ke rumah-rumah di Kaveling Sambau.

Koordinator Lapangan P2TL PLN Batam, Joni Sihombing menambahkan, tindakan pencurian listrik di Batam terkadang sulit diketahui. Kasus di Kaveling Sambau ini misalnya. Jika tidak ditelusuri, tak ada yang tahu karena jalur kabelnya masuk kawasan hutan.

Seringkali, petugas dan pelaku pencurian listrik seperti kucing-kucingan. Saat aksi mereka diketahui siang hari, lalu diputus oleh PLN Batam, malam harinya kabel yang sudah diputus itu dipasang kembali.

“Ada yang begitu, siang diputus malamnya disambung lagi. Makanya kami harus bertindak tegas,” ujarnya.

Saat ini, PLN Batam masih menghitung besaran kWh listrik yang dicuri, termasuk nilai kerugian yang timbul. Selain di Kaveling Sambau, lanjut Jhon, pihaknya juga sedang menyusuri wilayah lain di Kabil.

Dihubungi terpisah, Manager Humas bright PLN Batam, Bukti Panggabean mengatakan, operasi penertiban pencurian listrik akan terus  dilakukan bagi seluruh pelanggan PLN Batam. Penertiban harus dilakukan agar pelayanan kelistrikan di kota industri itu tetap handal.

“Penggunaan listrik ilegal sangat rawan menimbulkan terjadinya kebakaran, drop tegangan dan masalah lainnya. Kami juga tidak bisa menghitung beban trafo maupun jaringan pada saat ada sambungan- sambungan yang tidak terdata di sistem kami,” katanya.

Petugas PLN Batam menggulung kabel barang bukti tindak pencurian listrik di Kaveling Sambau, Nongsa, Selasa (13/14/18).
Foto: PELANTAR/ Fathurrohim

Dipungut Biaya Bulanan

Agus Hasraf mengatakan, pencurian listrik dipicu oleh keinginan mendapatkan keuntungan materi oleh pelakunya. Di Kaveling Sambau, warga yang mendapat pasokan listrik ilegal dikenakan beban biaya dengan besaran bervariasi.

Menurut warga yang menerima pasokan listrik curian, mereka harus membayar antara Rp100 ribu sampai Rp250 ribu per bulan kepada pengelola.

“Kalau tak salah, ada sekitar 20 kepala keluarga yang mendapat aliran listrik (ilegal). Setiap bulannya ada yang bayar seratus ribu ada yang dua ratus lima puluh ribu kepada pengelola kaveling,” kata seorang warga yang sedang berkebun di tempat itu.

Baca Juga : 

PLN Batam Serahkan Bantuan Rp60 Juta untuk Pesantren Aljabar

Agus mengatakan, warga membayar ke pengelola kaveling yang terindikasi sebagai pihak pertama yang mengambil listrik dari jaringan PLN. Pencurian listrik di Kaveling Sambau ini sudah berlangsung sekitar satu tahun.

Beberapa warga yang ditemui petugas penertiban sudah bersedia listrik mereka diputus. Namun, warga berharap PLN Batam juga bersedia menyambung listrik secara resmi ke rumah mereka.

Dalam operasi tersebut, petugas menyita kabel dan meteran yang terpasang di rumah warga.

“Kami bawa semua untuk barang bukti,” kata Agus.

 

Reporter : Fathurrohim

Editor : Yuri B Trisna