Musim berkurban sudah tiba, saatnya pedagang hewan kurban meraup rupiah. Masyarakat yang hendak membeli hewan kurban diingatkan jeli dalam memilih, jangan sampai salah beli.

Ustad Nurjaman tampak sibuk siang itu, Minggu (12/8). Beberapa orang mendatangi kandang kambing miliknya di kawasan Seitemiang atau Marina, Batuaji, Batam, Kepulauan Riau. Mereka adalah pengurus masjid di sejumlah daerah di Batam.

Di kandang itu, terdapat ratusan kambing. Beratnya bervariasi, mulai dari 20 sampai 45 kilogram. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di musim kurban tahun ini, Ustad Nurjaman juga banyak mendapat pesanan kambing dan sapi.

Iklan

“Setiap hari ada saja yang datang, mereka melihat-lihat dulu. Ada juga yang langsung beli,” katanya.

Biasanya, lanjut Ustad Nurjaman, sapi atau kambing yang sudah dibeli akan diantar sehari sebelum Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Tahun ini, Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Rabu (22/8).

Menurut Nurjaman, sejak awal bulan lalu, umat muslim sudah banyak yang mencari hewan kurban seperti kambing dan sapi. Di bawah bendera Jagal Utama, Ustad Nurjaman mengelola lima kandang; dua kandang sapi dan tiga kandang kambing. Dalam satu kandang kambing, terdapat ratusan ekor, dan sapi puluhan ekor

Harga kambing, dihitung berdasar beratnya. Setiap satu kilogram dihargai Rp100 ribu sampai Rp150 ribu, lebih dan kurang. Untuk hewan kurban, kambing yang dijual berkisar Rp2,7 juta sampai Rp3,5 juta, atau seberat 27 kilogram hingga 35 kilogram.

Sementara sapi, harga yang dipatok antara Rp20 sampai Rp30 juta per ekor, dengan bobot berkisar 200 hingga 350 kilogram. Sapi yang dijual merupakan jenis blasteran, ada juga sapi Bali. Sapi dan kambing itu ia datangkan dari Pulau Jawa.

Ustad Nurjaman mengatakan, para pembeli, biasanya sudah memesan jauh-jauh hari. Mereka kemudian datang di hari Sabtu atau Minggu, untuk memilih langsung di kandang. Hewan kurban itu tidak langsung dibawa, melainkan dititipkan di kandang miliknya.

Permintaan hewan kurban tahun ini, menurut dia masih tinggi. Untuk musim kurban kali ini, ia sudah beberapa kali memasukkan kambing dan sapi. Sekali datang, bisa mencapai 400 ekor kambing. Selama di kandang, kambing-kambing itu dirawat dan diberi pakan rerumputan. Karena itu, tak heran jika bobot kambing ada yang menjadi lebih berat dibanding saat datang. Naiknya bisa sampai 2 kilogram.

Selain pembeli yang datang langsung ke kandang, ada pula pedagang musimam yang memesan sapi dan kambing kepadanya. Para pedagang itu biasanya membuka lapak di tepian jalan di beberapa lokasi di Batam.

“Mereka pesan dan mengambil dari kami beberapa ekor untuk dipajang di kandang-kandang di pinggir jalan. Kami tidak membuka cabang seperti itu, itu memang murni pedagang musiman. Tapi ada juga pemilik kandang di sini yang membuka lapak begitu,” katanya.

Di kawasan Seitemiang tersebut, selain Ustad Nurjaman juga ada ratusan pengusaha hewan ternak lain. Kawasan tersebut memang dikenal sebagai pusat penjualan kambing dan sapi. Kerena itu, Ustad Nurjaman dan pengusaha lainnya, tidak hanya mengandalkan musim kurban dalam menjual sapi dan kambing mereka.

Kepada para calon pembeli, Ustad Nurjaman selalu berpesan agar teliti sebelum memutuskan membeli sapi atau kambing.

“Ya, biar tak salah pilih dan salah beli. Karena ada juga di sini yang membebankan risiko kepada pembeli. Contohnya kalau ada kambing atau sapi yang kurang sehat,” katanya.

Nugroho memilih datang langsung ke pusat pengandangan kambing di Seitemiang, Batam untuk membeli hewan kurban.
(Foto: PELANTAR/ Yuri B Trisna)

Nugroho, pengurus masjid salah satu perumahan di Kelurahan Belian, Batam Kota mengaku sengaja datang ke pusat penjualan hewan kurban di Seitemiang itu agar dapat melihat dan memilih langsung kambing dan sapi yang ingin dibeli untuk kurban nanti.

“Ya, sebenarnya bisa saja kita pesan dan nanti diantar sama pedagang. Tapi sepertinya lebih puas begini, datang langsung ke kandang,” katanya.

Nugroho mengaku, di kompleks perumahannya, sedikitnya ada 2 sapi dan 7 ekor kambing yang akan dipotong saat Hari Raya Kurban nanti. Dengan jumlah sebanyak itu, ia bersama beberapa pengurus masjid lainnya memilih untuk datang langsung ke kandang. Saat bertemu pelantar.id, mereka tampak memilih kambing. Tak lama, setelah berbincang dan menerima masukan dari pedagang, transaksi pun terjadi.

“Sudah cocok harga dan barangnya. Insya Allah berkah dan lancar sampai hari H nanti,” kata Nugroho.

Pemeriksaan Kesehatan
Untuk keperluan kurban, hewan yang dijual sebenarnya harus memenuhi kelayakan. Pemerintah juga akan melakukan pemeriksaan, dan memberi label sehat pada hewan-hewan kurban yang dijual pedagang.

Dokter Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Kota Batam, Samuel Tampubolon mengatakan, petugas akan langsung memisahkan hewan-hewan yang tidak layak untuk dijual sebagai hewan kurban saat pemeriksaan. Pengecekan kesehatan seluruh hewan kurban meliputi, mata, kulit elastis, hidung berlendir, posisi kaki tegak dan tidak ada luka, juga kelainan pada kuku hewan.

Samuel mengatakan, tanda-tanda fisik itu dapat menandakan hewan dalam kondisi sehat dan layak dijadikan hewan kurban. Tim juga memastikan hewan cukup umur, berdasarkan bentuk giginya.

“Untuk usia, kami lihat dari gigi. Sapi yang boleh dipotong minimal harus berusia dua tahun,” katanya dilansir dari Antara.

Menurut dia, hingga saat ini, kondisi kesehatan hewan kurban relatif baik, karena sebelumnya juga sudah melalui pemeriksaan di karantina. Ia memastikan, belum menemukan hewan untuk kurban di Batam yang membawa penyakit berbahaya.

Hingga akhir pekan lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Batam telah memeriksa kesehatan sedikitnya dua ribu hewan kurban. Pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan hewan layak, bebas dari penyakit berbahaya.

“Hewan yang tak layak sudah langsung dipisahkan, sedangkan yang sehat langsung diberi label sehat,” kata dia.

 

Reporter : Yuri B Trisna
Editor : Yuri B Trisna

Iklan