pelantar.id – Produk olahan jahe merah karya pelaku usaha kecil menengah (UKM) Kota Batam, Kepulauan Riau berhasil menembus pasar Malaysia dan Singapura. Produk bermerek Kenji Snack itu sudah beberapa kali mengikuti pameran di negara jiran bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepri.

“Alhamdulillah, setiap pekan sudah ada pembeli tetap dari Malaysia dan Singapura,” kata Ketua Bidang Perekonomian Perempuan Tani HKTI yang juga pembina UKM, Mujiatun di Batam, baru-baru ini.

Iklan

UKM Kenji Snack mengolah jahe merah menjadi bubuk minum siap seduh, lengkap dengan gula dan ramuan herbal lainnya. Di Malaysia, bubuk jahe dengan merek dagang Tempayan itu untuk konsumsi tamu hotel dan spa.

“Setiap pekan kami kirim dua kali, Sabtu dan Minggu, sekali kirim bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 botol,” kata dia.

Untuk pasar Singapura, Mujiatun mengaku pesanan yang masuk tidak terlalu banyak. Setiap pekan mereka mengirim sekitar 600 botol.

Mujiatun mengaku mengirim sendiri bubuk jahe kemasan botol plastik itu ke Malaysia dan Singapura, tidak melalui jasa kurir.

“Tidak ada masalah, orang bea dan cukai juga sudah tahu. Kalau saya mau masuk Malaysia antar barang, orang bea cukai di sini langsung kontak ke Malaysia,” kata dia.

Mujiantun bercerita, sebenarnya sudah pernah dilirik pasar dari Tiongkok yang berkomitmen membeli dalam jumlah besar. Tapi pasar Tiongkok menetapkan syarat di antaranya, dikemas dalam botol kaca, dan dibuat dengan standar industri.

Sayang, pesanan tersebut tidak dapat dipenuhi karena selama ini bahan minuman hangat itu masih diproduksi rumahan. Sedangkan eksportir menginginkan produksi dilakukan di kawasan industri khusus.

“Kami tak bisa memenuhinya. Untuk sewa ruko biasa, mungkin bisa. Tapi mereka mintanya harus di kawasan industri, yang sewanya saja sampai ratusan juta. Kami kesulitan modal,” kata dia.

Baca Juga : 

Bukalapak Dorong UKM Kepri Beralih ke Digital

Selama ini, produksi jahe merah UKM Kenji Snack dilakukan di 3 lokasi, di antaranya di Tiban dan Sagulung, demi memenuhi kebutuhan pasar yang besar. Sedangkan untuk bahan baku, sebagian besar didapatkan dari petani lokal Batam, dan sebagian lainnya didatangkan dari Medan.

“Bahan baku kami, hanya 30 persen yang dari lokal. Kebanyakan dikirim dari Medan. Namun, kami terus mengupayakan agar mendapatkan bahan baku dari Batam saja. Meski harga bahan baku dari Batam lebih mahal,” kata dia.

Bubuk jahe merah kemasan produksinya juga sudah dilengkapi sejumlah perizinan, dari Dinas Kesehatan, MUI, dan BPOM.

“Tinggal kode ML saja karena kalau ekspor semua harus sesuai standar,” ujar Mujiantun.

 

 

 

Sumber : Antara

Iklan