pelantar.id – Tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Agustus 2018 mencapai 7,12 persen dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 970.132 orang. Angka itu turun dibanding pengangguran pada Agustus 2017 yang mencapai 7,16 persen atau sekitar 47 orang.

“Jumlah pengangguran pada Agustus 2018 hanya turun 47 orang jika dibandingkan Agustus 2017,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Zulkipli di Tanjungpinang, Selasa (6/11/18).

BPS Kepri mencatat, penduduk yang bekerja pada saat itu sebanyak 901.109 orang. Data BPS Kepri, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 bertambah sebanyak 4.041 orang dibandingkan Agustus 2017. Adapun indikator yang dipakai adalah, tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.

Zulkipli mengatakan, tingkat pengangguran terbuka di kawasan perkotaan tercatat lebih tinggi dibanding pedesaan. Pada Agustus 2018 pengangguran di perkotaan sebesar 7,69 persen sedang di pedesaan sebesar 2,77 persen. Dibandingkan tahun 2017, pengangguran terbuka di perkotaan mengalami peningkatan sebesar 0,28 poin, sedangkan perdesaan menurun sebesar 2,62 poin.

Sementara dari tingkat pendidikan pada Agustus 2018, pengangguran untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tingkat pendidikan lain yaitu sebesar 12,98 persen. Tingkat pengangguran terbuka tertinggi berikutnya terdapat pada Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 10,91 persen.

“Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja yang tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA. Dibandingkan Agustus 2017, peningkatan pengangguran terbuka hanya terjadi pada tingkat pendidikan SMA dan SMK, sedangkan pada tingkat pendidikan lainnya mengalami penurunan,” ujarnya.

Kepala BPS Kepri, Zulkipli

Menurut Zulkipli, jumlah penduduk yang bekerja pada setiap kategori lapangan pekerjaan menunjukkan kemampuan dalam penyerapan tenaga kerja. Struktur penduduk bekerja menurut lapangan pekerjaan pada Agustus 2018 masih didominasi oleh tiga lapangan pekerjaan utama yaitu industri pengolahan sebesar 23,37 persen, perdagangan 19,35 persen, dan konstruksi sebesar 9,44 persen.

Berdasarkan tren lapangan pekerjaan selama Agustus 2017-Agustus 2018, lapangan usaha mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja terutama pada industri pengolahan 1,68 poin, jasa lainnya 1,59 poin, dan transportasi dan gudang 1,42 poin. Sedangkan lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya pada perdagangan 2,27 poin, jasa perusahaan 1,42 poin dan pemerintahan 1,29 poin.

Dari seluruh penduduk bekerja pada Agustus 2018, status pekerjaan utama yang terbanyak sebagai buruh, karyawan, pegawai sebanyak 63,77 persen. Kemudian diikuti status berusaha sendiri 20,56 persen, berusaha dibantu buruh tidak tetap atau buruh tidak dibayar 4,43 persen, dan pekerja keluarga 4,41 persen.

Sementara penduduk yang bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap memiliki persentase yang paling kecil yaitu sebesar 3,37 persen.

Zulkipli mengatakan, dalam setahun terakhir (Agustus 2017-Agustus 2018), peningkatan persentase penduduk bekerja terdapat pada status berusaha sendiri 1,84 poin, pekerja keluargaatau tak dibayar 0,64 poin, dan berusaha dibantu buruh tetap 0,10 poin. Penurunan terjadi pada status buruh, karyawan, pegawai sebesar 1,47 poin, berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 1,04 poin, dan pekerja bebas sebesar 0,08 poin.

Penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2018 didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan SMA sebanyak 229.854 orang (25,51 persen), SD ke Bawah sebanyak 205.800?orang (22,84 persen), SMK sebanyak 184.948 orang (20,53 persen), 122.396 orang (13,58 persen) berpendidikan Universitas, SMP sebanyak 109.442 orang (12,15 persen), dan terkhir penduduk bekerja yang berpendidikan Diploma ada sebanyak 48.579 orang (5,39 persen).

BPS juga mencatat, dalam setahun terakhir, persentase penduduk bekerja berpendidikan SMA menurun dari 28,89 persen pada Agustus 2017 menjadi 25,51 persen pada Agustus 2018.

 

Sumber : Antara