Pelantar.id-Dalam Bahasa Indonesia, Restorasi berarti pengembalian atau pemulihan ke keadaan semula atau pemugaran. Hal yang dapat direstirasi pun beragam. Seperti gedung bersejarah, kedudukan raja, bahkan negara.

Dalam hal ini, Pusat Pengembangan (Pusbang) Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudaan Indonesia melakukan sosialisasi serta screening hasil restorasi film di CGV Blitz Kepri Mall, Minggu (11/11) kemarin. Hal tersebut dilakukan guna mengapresiasi karya film Indonesia yang dibuat pada tahun awal kemerdekaan republik ini.

Salah satu film yang direstorasi adalah Pagar Kawat Berduri yang ditayangkan di layar lebar pada tahun 1961.Dalam sosialisasi dan screening film tersebut, ratusan penonton yang terdiri dari komunitas film yang ada di Batam, pelajar, hingga pejabat daerah pun turut pasang mata.

Selain itu, setelah nonton bareng, diskusi melalui tanya-jawab pun turut dihadirkan. Sehingga seluruh penonton dapat langsung menanyakan rasa penasaran serta keingintahuannya terhadap film Pagar Kawat Berduri.

Tentang Film Pagar Kawat Berduri

Film ini mengisahkan tentang perjuangan para pejuang Republik Indonesia yang ditawan di kamp Belanda sebelum masa kemerdekaan yang nekat menyuarakan revolusi.

Awalnya para pejuang yang ditawan ini ingin melarikan diri, namun penjagaan begitu ketat, ditambah pula seluruh kamp yang dipagari dengan kawat berduri. Sehingga peluang untuk melarikan diri kecil sekali.

Pagar Kawat Berduri juga menggambarkan strategi komunikasi yang dilakukan oleh para tahanan agar mendapat simpati dari penjaga-penjaga Belanda. Tokoh utamanya adalah Parman (diperankan Sukarno M Noor).

Ia memilih strategi untuk berkawan karib (berpura-pura menjilat dan tunduk) kepada pimpinan Kamp Belanda, Kampinan Koenen (diperankan Bernard Ijzerdraat/Suryabrata). Alhasil, Parman pun dianggap pengkhianat oleh teman-temannya.

Ia pun melarang teman-temannya untuk melakukan perlawanan ke pihak Belanda dan terus melakukan komunikasi serta menarik simpati Belanda. Apa yang dilakukan Parman pun tidak sia-sia.

Sebab terjadi kegalauan di dalam hati Kampinen Koenen; membantu Indonesia memperjuangkan Indonesia atau meneruskan tujuan Belanda datang ke Nusantara menguasai rempah-rempah, kopi, cengkeh, dan kekayaan alam lainnya.

Lalu ada adegan kala Kampinen Koenan di tengah-tengah kegalauannya, pergi ke Gereja untuk mengikuti perayaan Misa dan berdoa. Namun, Kampinen Koenen memilih jalan untuk membantu Parman. Saat dia memanggil Parman dalam keadaan mabuk dan pingsan. ketika itu pula Parman mengambil pistol dari lemari Koenan.

Malam itu juga, Parman membantu pelarian dua temannya yakni Herman dan Toto untuk kembali bergabung dengan pejuang Republik. Bermodalkan pistol dan catut untuk memotong pagar kawat berduri ketiganya pun berupaya kabur dari kamp.

Namun, naas bagi Herman, ia tertembak peluru Belanda, tetapi Parman dan Toto berhasil lolos. Mengetahui hal tersebut, Koenan pun memilih bunuh diri dengan menembakkan timah panas ke kepalanya sambil memeluk foto Ratu Belanda. Nasib Parman dan Toto pun berakhir tragis karena pada akhir film, keduanya dieksekusi Belanda.

Alasan Merestorasi Film Pagar Kawat Berduri

Kepala Bidang Apresiasi, Ketenagaan, dan Arsip Film Pusbang Film Kemendikbud, Muhammad Sanggrupi/foto: faturrohim/pelantar.id

Kepala Bidang Apresiasi, Ketenagaan, dan Arsip Film Pusbang Film Kemendikbud, Muhammad Sanggrupi, mengatakan film ini mengandung nilai-nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal. Sehingga dirasa tepat untuk merestorasinya.

“Selain itu, kami juga ingin mengenalakan kekayaan dunia perfilman Indonesia kepada generasi muda dan khalayak banyak. Pagar Kawat Berduri merupakan film yang telah berusia 56 tahun dan memiliki pandangan Humanisme Universal dan mampu membuat masyarakat bersimpati pada sesama, dalam cerita ini kepada Belanda,” kata dia.

Saat ini, lanjut Sanggrupi, Pusbang Film memiliki koleksi 700 film layar lebar dan setiap tahunnya merestorasi satu film. Hal tersebut lantaran merestorasi memakan biaya besar. selain itu tekhnologi yang pihaknya miliki juga sangat terbatas.

Pusbang Film pun menurutnya mengajak pihak swasata untuk melakukan restorasi film agar unsur-unsur sejarah dan kekayaan yang ada di dalam film tetap terjaga dan dapat dinikmati serta diketahui masyarkat Indonesia secara luas.

“Sejauh ini, kami telah merestorasi tiga film layar lebar Indonesia. Di antaranya adalah Darah dan Doa pada 2013 lalu, Pagar Kawat Berduri, dan Bintang Kecil yang saat ini tengah dalam proses pengerjaan. Alasan kami merestorasi ketiga film tersebut adalah lantaran menjadi prioritas dari sekian banyak koleksi yang kami miliki,” ungkapnya.

Film Darah dan Doa memiliki nilai sejarah penting dalam dunia perfilman Indonesia, Pagar Kawat Berduri memiliki unsur sejarah revolusi perjuangan, dan film Bintang Kecil merupakan film anak-anak pertama.

Sanggrupi juga menambahkan, melalui sosialisasi dan screening yang bekerja sama dengan pihak 21 Studio dan CGV Blitz, pihaknya berharap masyarakat dapat menyaksikan film hasil restorasi.

“Artinya restorasi adalah kembali menghidupkan kembali memori yang ada dalam setiap film yang kami garap ulang. Selain itu kami juga menyediakan biokop berjalan yang tersedia yang di beberapa kota di Indonesia. Sehingga masyakat lain mendapat kesempatan menonton film yang telah kami restorasi,” jelasnya.

Project Director Restorasi dari Render Digital Indonesia, Riska Fitri Akbar, membeberkan bahwa film Pagar Kawat Berduri menghabiskan dana Rp2 miliar dengan waktu pengerjaan 100 hari. Menurutnya biaya itu termasuk murah meliat kondisi gulungan film yang telah berusia puluhan tahun.

“Indonesia tidak terlalu serius dalam menyelamatkan beberapa artefak sejarahnya. Sehingga beberapa peninggalan seperti film akhirnya direstorasi oleh pihak lain. Seperti Singapura misalnya,” bebernya.

Lanjut Riska, restorasi adalah tindakan terakhir dalam menyelamatklan artefak bersejarah milik negara. karena jika restorasi tidak dilakukan maka generasi penerus bahkan bangsa ini akan kehilangan sejarah penting baik budaya, politik, perjuangan dan lainnya.

“Untuk itu saya berharap Indonesia memiliki tempat khusus serta layak untuk menyimpan artefak bersejarah. Agar restorasi dapat ditekan secara biaya,” katanya.

Reporter: Faturrohim
editor: elizagusmeri