pelantar.id – Malaysia mendeportasi 153 Tenaga Kerja Indonesia melalui Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kamis (8/11/18) sore. Ratusan TKI itu dideportasi karena kedapatan bekerja tanpa dilengkapi dokumen resmi.

Kepala Pos Imigrasi Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Daniel Maxrinto mengatakan, ke-153 TKI itu tiba di Tanjungpinang menggunakan Kapal MV. Gembira 3. Dari Malaysia, mereka diberangkatkan dari pelabuhan Situlang Laut, Johor.

Ke-153 TKI tersebut terdiri dari 78 orang laki-laki, perempuan 69 orang, anak-anak 6 orang. Di antara mereka terdapat ibu paruh baya yang menderita penyakit rheumatik dan terpaksa mengenakan kursi roda.

Para TKI itu selanjutnya dibawa ke tempat penampungan TKI di Wisma Transito di Kilometer 8 dan Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) di wilayah Senggarang.

“Kami akan data daerah asal mereka, setelah itu baru bisa dipulangkan ke kampung halaman masing-masing, menggunakan kapal Pelni melalui Pelabuhan Kijang, Bintan,” ujar Daniel

Sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia, para TKI ini terlebih dahulu telah menjalani masa tahanan di penjara Malaysia, dengan masa tahanan mulai dari tiga hari hingga beberapa bulan.

“Biasanya mereka ditahan sesuai dengan kesalahan mereka masing-masing. Kemudian, baru dipulangkan secara bersamaan dengan sejumlah TKI lainnya yang juga telah menjalani masa tahanan,” kata Daniel

Baca Juga : 

Tanpa Notifikasi, TKI Tuti Dieksekusi Mati Arab Saudi

Setibanya di Tanjungpinang, selanjutnya para TKI ini langsung dipulangkan ke daerah mereka masing-masing. Ratusan TKI tersebut berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Pekanbaru, Surabaya, Madura, dan Medan termasuk dari Tanjungpinang sendiri.

“Saat ini mereka sedang didata, kemungkinan besok (hari ini) sudah mulai dipulangkan ke kampung mereka masing-masing,” kata dia.

Ingin Kembali Lagi

Rudi, seorang TKI asal Jawa Tengah, mengaku sudah bekerja sebagai kuli bangunan di Malaysia sejak 6 tahun belakangan. Ia ikut dideportasi, akibat paspor yang gunakan dalam kurun waktu tersebut telah kadaluwarsa.

“Niat bekerja lagi di Malaysia tentu masih ada. Apalagi di Indonesia sekarang sulit cari kerja. Tapi itu tadi, harus lengkapi dokumen dulu, biar jadi TKI resmi,” ujarnya.

 

Sumber : Antara