pelantar.id –  Sejumlah anak jalanan di wilayah Pantura, Kudus, Jawa Tengah (Jateng) ditangkap petugas Badan Nasional Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jateng, Jumat (9/11/18).  Para remaja itu kedapatan sedang mabuk air rebusan bekas pembalut wanita.

“Iya benar, beberapa remaja yang mabuk rebusan pembalut tertangkap BNNP Jateng di Kudus. Namun mereka tercatat sebagai warga Purwodadi, Grobogan,” kata Kepala Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Kudus, Jawa Tengah, AKP Sukadi

Sukadi mengatakan, para pelaku yang tertangkap merupakan anak jalanan yang dalam keseharian menjalankan rutinitas di jalanan Pantura.

“Anak-anak jalanan lebih rentan melakukan aktivitas yang tidak mendidik,” katanya.

Sukadi mengatakan, fenomena mabuk menggunakan air rebusan pembalut yang ramai jadi perbincangan akhir-akhir ini, adalah kasus terbaru yang belum pernah ditemukan oleh polisi di Kudus. Oleh karena itu, Polres Kudus akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi di wilayah hukumnya.

“Selama ini tidak ada kasus nge-fly rebusan pembalut di Kudus. Kemungkinan yang tertangkap, mabuknya di daerah lain, namun tertangkap di Kudus. Kami akan terus gencarkan sosialisasi kepada masyarakat dan sekolahan. Untuk anak jalanan, Sat Sabhara diimbau rutin berpatroli dan bersosialisasi,” kata dia.

Sementara Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus, Lutful mengatakan, kasus remaja yang teler dengan menyalahgunakan rebusan pembalut merupakan kasus yang baru di Kudus.

Sebagai instansi pemerintah yang bertugas mengurus anak jalanan, pihaknya belum pernah sekalipun menemui kasus tersebut di Kudus.

“Sungguh ironis. Kami terkejut karena kasus ini tergolong baru bagi kami. Sampai saat ini, belum ada temuan dari kami,” kata Lutful.

Baca Juga : 

Mabuk Air Rendaman Pembalut Lagi Tren di Kalangan Remaja

Untuk mengetahui detail temuan kasus yang tak lazim itu, pihaknya akan segera menerjunkan tim internal untuk mencari informasi.

“Selama kami melakukan razia anak jalanan, sangat jarang mereka ditemukan dalam keadaan mabuk,” kata dia.

Selebihnya, mereka yang terjaring razia langsung ditempatkan di rumah singgah tanpa ada interogasi mendalam terkait aktivitasnya. Di dalam rumah singgah, mereka akan didata lalu dipulangkan ke rumah mereka masing-masing.

“Anak jalanan yang asli Kudus langsung saya kontak ke kepala desanya untuk dijemput. Untuk yang luar kudus, keesokan hari dipulangkan,” kata Lutful.

Baginya, temuan kasus mabuk dengan air rebusan pembalut cukup aneh. Menurut Lutful,  selama ini kenekatan anak jalanan yang pernah ditemui yaitu mengonsumsi obat batuk melebihi dosis, menghirup lem atau mengoplos miras dengan losion anti nyamuk.

“Kami akan berupaya semaksimal mungkin melakukan sosialisasi kepada para anak jalanan,” ujarnya.

Sumber : Kompas.com