Penulis:

Hendra Mahyudhy

pelantar.id – Chatbot atau chatterbots adalah sebuah program komputer berupa layanan pendukung percakapan dengan menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan kecerdasan buatan.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada dekade 1960’an, chatbot terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman demi mendukung Artificial Intelligence (AI). Satya Nadella, CEO Microsoft Build 2016 mengatakan, ke depannya segenap aspek permintaan dari konsumen akan menggunakan chatbots sebagai jalur utamanya.

Philip Auslander dalam jurnalnya berjudul Live From Cyberspace: Or, I Was Sitting at My Computer This Guy Appeared He Thought I Was a Bot mengatakan chatbot dalam kata lain merupakan robot yang dirancang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia.

Bahkan di ranah komputer terdapat ragam “bot”. Di antaranya; warbots, channelbots, spambots, cancelbots, clonebots, collidebots, floodbots, gamebots, barbots, eggdrop bots, dan modbots.

AI Chatbot dari masa ke masa

#Eliza (1966)
Sebelum Eliza tercipta, di dekade 60’an para ilmuwan komputer telah menciptakan AI chatbot tanpa nama yang fungsinya untuk memperdaya kita seolah-olah sedang berkomunikasi dengan manusia, padahal saat itu berbicara dengan komputer.

Beriring waktu, chatbot terus dikembangkan melanjutkan visi Alan Turing dengan simulasi percakapan yang seakan-akan nyata. Hingga, 1966 Joseph Weizenbaum, dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) akhirnya merilis sebuah chatbot bernama Eliza. Chatbot ini didesain sebagai sosok psikoterapis saat berbicara dengan manusia.

Awal kemunculannya banyak kaum akademisi yakin bahwa chatbot ini akan membawa rangkaian pengaruh terhadap kehidupan anak manusia di masa depan.

Menariknya, Weizenbaum menamai chatbotnya karena terinpirasi dari tokoh perempuan kelas pekerja bernama Eliza Doolittle dalam naskah drama karya George Bernard Shaw berjudul Pygmalion.

Pertama kali Weizenbaum mengimplementasikan chatbot ini menggunakan bahasa pemroses daftar SLIP miliknya sendiri. Di mana, semua bahasa tergantung pada entri awal pengguna dan ilusi kecerdasan manusia akan muncul.

Saat itu tanggapan orang-orang tentang Eliza begitu sangat meyakinkan, sehingga memunculkan anekdot tentang orang yang menggunakanya secara emosional terikat pada program tersebut, bahkan kadang-kadang lupa bahwa mereka sedang berbicara dengan komputer.

#Parry (1972)
Kesuksesan Eliza membentangkan manifestasi bagi ilmuwan lain, sehingga 6 tahun kemudian kuda pacu baru muncul dalam arena persaingan.

Ketika orang-orang sedang mengagumi Eliza, di suatu tempat di California seorang psikiater dari Universitas Stanford memilih berjibaku menciptakan pemrograman AI versi terbaru. Chatbot ini dirancang sedemikian akurat untuk mensimulasikan pola pikir manusia, khususnya penderita skizofrenia paranoid.

Kenneth Mark Colby memberi nama chatbot ini Parry. Karyanya ini muncul dengan rasa persaingan sehat di antara para profesional yang sedang berada di puncak kesenangan untuk berkarya.

Walau berlandasan pada ketidaksukaan terhadap kesombongan orang-orang di tim Eliza, namun persaingan di antara mereka berjalan sangat mengagumkan, karena menghasilkan karya-karya yang akan terus mengubah industri dunia kedepannya.

Munculnya dua kuda ini dalam arena yang sama membuat sejarah kecerdasan buatan terus berkembang.
Sepanjang hidupnya Colby merupakan seorang psikiater yang selalu percaya bahwa komputer akan dapat berkontribusi dalam memahami penyakit mental.

Sebuah proyek “Mengatasi Depresi” dengan menggunakan kecerdasan buatan terus dia kembangkan melalui chatbot hingga dia meninggal 2001 silam.

#Jabberwacky (1988)
AI Chatbot jenius ini diciptakan oleh Rollo Carpenter, seorang finalis Loebner Prize asal Inggris. Tujuan utamanya untuk menstimulasi percakapan manusia dengan cara yang sangat humoris, karena dia mampu menggunakan kata-kata plesetan, slang, bahkan terkadang menggunakan makian untuk menciptakan guyonan. Satu hal, chatbot ini bisa menjadi lawan bicara yang konfrontatif.

Kelebihan Jabberwacky dari chatbot lain adalah, semakin banyak ia berbicara dengan chatter (manusia), makin akan semakin banyak hal yang dipelajarinya. Hal ini lah tujuan utama Carpenter mendesain Jabberwacky, sebisa mungkin mirip dengan manusia.

Memang bukan dari bentuk fisiknya, melainkan dari caranya bercakap-cakap. Chatbot ini mempelajari cara bicara manusia, mempelajari beberapa bahasa, hingga memahami konteks percakapan dan aturannya.

Fakta menarik lainnya, Carpenter menciptakan Jabberwacky sebagai hiburan dan sumber persahabatan, dia membayangkan hubungan manusia dengan hewan peliharaan seperti burung beo, dari sanalah ide tentang Jabberwacky mulai dikembangkan.

#A.L.I.C.E (1995)
Pada tahun 1995 seorang penulis asal Amerika mencurahkan dirinya menjadi seorang botmaster. Di tangannya ALICE atau Artificial Linguistic Internet Computer Entity tercipta, ditambah lagi pada tahun ini teknologi telah semakin berkembang dan memudahkan ALICE dalam menggunakan Natural Language Processing (NLP) atau pemrosesan bahasa alami.

ALICE dilengkapi dengan Artificial Intelligence Markup Language (AIML) sehingga memungkinkan untuk memberi respons cepat dengan level yang cukup rumit. Chatbot ini akan menyimpan percakapan yang diterimanya dari manusia dan menambahkan langsung dalam basis datanya.

Di tahun ini ALICE adalah AI chatbot yang sangat modern dan menginspirasi banyak orang, bahkan sutradara Spike Jonze mengatakan, saat pembuatan film “Her” dia menjadikan ALICE sebagai inspirasi utamanya.

#Smartchild (2001) dan IBM’s Watson (2006) AI Chatbot era Milennial
Di dekade 2000’an, AI chatbot semakin berkembang. Seperti Smarchild yang merupakan pendahulu dari Siri dikembangkan pada 2001, AI chatbot ini tersedia di AOL IM dan MSN Messenger dan dikembangkan oleh ActiveBuddy, Inc.

Selain itu, di 2006 IBM’s Watson turut diciptakan dengan tujuan utama mengikuti kontes Jeopardy. Chatbot ini memiliki kecerdasan linguistik tingkat tinggi karena kemampuannya menganalisis ratusan algoritma bahasa secara bersamaan. Saat ini IBM Watson berfungsi sebagai “otak” bagi banyak chatbots di banyak sektor industri. Teknologi semakin berkembang, dan manusia memiliki banyak pilihan.

#SIRI (2010), Google Now (2012), Alexa (2014)
Siri adalah asisten pribadi milik perusahaan ternama Apple yang diciptakan pada 2010. Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan AI chatbot satu ini. Siri memiliki aktivasi suara yang ramah dan mampu berinteraksi dengan kegiatan sehari-hari manusia. Layaknya asisten pribadi, Siri akan dengan hati membantu Anda dalam mencari informasi, menjadi navigator, bahkan membantu Anda dalam mengirimkan pesan.

2 tahun setelah Siri, perusahaan raksasa Google Inc akhirnya meluncur Google Now di 2012. Sejak diluncurkan AI chatbot ini terus berkembang dengan agresif. Idenya sederhana, menyajikan apa yang diperlukan oleh manusia sebelum manusia itu sendiri menginginkannya. Eksekusi dari program ini sangat bagus dan mempermudah orang-orang dalam mencari apapun di dunia maya.

Berlanjut setelah Google Now, pada 2014 Amazon meluncurkan asisten pribadi yang sangat cerdas yaitu Alexa. Chatbot ini sekarang terintegrasi dengan perangkat Amazon Echo, Echo Dot, dan Echo Show, yang dibutuhkan oleh chatbot ini untuk memahami Anda hanyalah suara Anda, katakan sesuatu dan dia akan memahaminya.

#Bots for Messenger (2016)
Dari 2016 hingga 2020 ini kita dengan mudahnya akan menemukan AI chatbot di mana-mana, baik di sebuah website, di dalam smartphone, bahkan dalam situs jual beli ketika Anda menginginkan sesuatu.

Di Indonesia sendiri, dalam laman Weefer Indonesia kini telah tersedia juga chatbot yang bahkan telah terintegrasi secara langsung dengan livechat dan juga aplikasi messenger seperti Facebook, Whatsapp dll. Hal ini tentunya akan mempermudah kerja tim customer support untuk memberi pengalaman berharga bagi pelanggan Anda setiap saat ketika livechat telah terintegrasi dengan chatbot.

 

Manfaat utama mengintegrasikan livechat dengan chatbot di era industri digital

Dewasa ini kita bisa lihat, selain chatbot, livechat juga mudah kita temui hampir di seluruh website. Kendati begitu, sistem kerja livechat tentunya berbeda dengan chatbot. Livechat sendiri interaksinya masih dikuasai oleh manusia, di mana terdapat personel yang ditugaskan untuk menangani persoalan dengan konsumen.

Namun, ketika mengalami kendala dengan banyaknya pertanyaan pelanggan tentunya personel tersebut akan merasa kewalahan.

Penting diingat, kebanyakan pelanggan menginginkan mode percakapan yang memberikan tanggapan dan solusi cepat mengenai permasalahan mereka.

Tentunya, untuk mengatasi ini Anda membutuhkan tenaga tambahan, bisa jadi karyawan baru. Namun, bagaimana jika perusahaan Anda memiliki kendala keuangan?

Karena itu, dengan mengintegrasikan livechat dengan chatbot tentunya akan mempermudah kinerja customer support, sehingga chatbot bisa membantu menangani pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum, sementara pekerja Anda bisa fokus dengan persoalan kompleks lainnya agar kepuasan pelanggan tetap terus terjaga.

Kita paham, Chatbot belum sepenuhnya bisa menggantikan peran manusia, akan tetapi teknologi berbasis artificial intelligence ini akan cukup efisien dalam mempermudah kinerja tim di era digital. Satu hal penting, dengan adanya perkembangan teknologi kecerdasan buatan ini, membuat chatbot akan bisa lebih cerdas menjawab pertanyaan pelanggan setiap saat.

Dilansir dari laman Tirto, aplikasi seperti WeChat dan Facebook Messenger telah mengambil memanfaatkan dari chatbot. Penggunanya kini bisa membeli sesuatu cukup berbincang dengan chatbot. Ini menunjukkan bahwa, di masa depan, era interaksi dan komunikasi manusia dengan komputer atau mesin bakal jadi hal yang umum, karena telah dimulai sejak sekarang.