Fotojurnalis adalah penyaksi sejarah. Kerja jurnalistik adalah awal penulisan sejarah itu sendiri. Berbeda dengan jurnalis teks, di sebuah media, posisi fotojurnalis kerap dianggap kecil, dianggap hanya melakukan pekerjaan mudah tanpa perlu keahlian dan otak. Posisinya selalu dipandang kalah penting dari para penulis. PewartaFoto Indonesia (PFI) mencoba meretas jalan penyejajaran profesi fotojurnalis. Langkah itu dimulai dari Kepri.

Operasi pembersihan sebuah rumah yang terletak persis di belakang Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) Mediterania, Batam berlangsung sudah sangat larut. Wajah-wajah lelah anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepulauan Riau sepintas lalu terlihat memaksakan lengannya untuk tetap mengayun gagang sapu, mengelap lantai dan membungkusi sampah ke dalam karung beras bekas pakai.

Dering ponsel terdengar silih berganti. Tangan-tangan yang tengah menyapu, mengepel dan memasang bahan flexy bekas baliho sebagai pengganti taplak meja sejenak menghentikan aktivitas, untuk sekadar menerima panggilan.  Nyaris seluruhnya dari istri masing-masing. Mereka mengkhawatirkan sang suami yang kebanyakan belum pulang ke rumah sejak berangkat melakukan peliputan pada pagi hari.

Iklan

“Sebentar lagi papa pulang,” adalah kalimat lirih yang paling banyak terdengar saat pria-pria kelelahan itu menjawab panggilan telepon.

Immanuel Sebayang, satu dari sekian fotojurnalis yang dituakan oleh pewarta foto di Kepri bahkan tidak kuasa menyembunyikan raut gusar, menimbang antara pamit pulang untuk mengurus buah hati yang sedang sakit atau tetap berada di lokasi, demi persiapan verifikasi faktual PFI Kepri oleh Dewan Pers.

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo melayani diskusi di Sekretariat PFI Kepri di Batam. FOTO : PFI Kepri/Cecep Mulyana

Malam sudah beranjak pagi saat seluruh pekerjaan terselesaikan. Bangunan bercat merah marun yang merupakan sekretariat PFI Kepri siap untuk menerima tim yang akan melakukan pembuktian eksistensi organisasi tempat bernaung para kuli rana. Dengan tenaga yang tersisa, mata-mata kuyu para pengabdi peristiwa saling bertatapan, kemudian berpisah, kembali ke rumah masing-masing.

Tim verifikasi Dewan Pers dijadwalkan berkunjung pada sore hari. Grup WhatsApp PFI Kepri riuh dengan ketikan bernada sedikit panik dari para pengurus, anggota dan pembina organisasi. Kepanikan yang cukup beralasan, karena Kepri menjadi yang pertama dari 15 PFI daerah yang akan dibuktikan sebagai syarat bergabungnya PFI ke Dewan Pers.

Pembuktian faktual lokasi sekretariat, daftar susunan pengurus organisasi, data anggota beserta karya terpublikasi dan laporan kegiatan organisasi setahun terakhir bukan perkara mudah untuk dikumpulkan dalam tempo singkat. Selain itu, kekhawatiran juga timbul karena adanya kesan angker dari proses verifikasi yang terdengar dari kanan dan kiri, mulai ruwetnya proses verifikasi dan saran penyambutan tim penilai.

Argianto DA Nugroho, Sekjen PFI Kepri seperti kesetanan menuntut kekurangan berkas dari para anggota, untuk dilampirkan sebagai bagian dari syarat verifikasi. Kepanikannya tidak mendapat respon memadai karena para anggota dan pegurus lain juga tengah mengerjakan persiapan lain, di sela kewajiban memenuhi proyeksi dari kantor masing-masing. Alhasil, hingga tim verifikasi tiba dan melakukan pemeriksaan, sejumlah item masih terhutang.

Informasi terus diperbaharui dari menit ke menit. Immanuel dan Argianto yang bertugas menjemput tim dari hotel menginformasikan, yang akan berkunjung bukan hanya tim, melainkan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo juga turut serta. Rasa was-was menjalari seluruh anggota dan pengurus oleh kabar tersebut.

“Aihmak, Ketua Dewan Pers mau datang, kita tak sempat pula pinjam karpet. Konsumsi kita juga cuma ada gorengan,” seru seorang anggota yangsudah bersiap menunggu kedatangan tim di sekretariat sejak siang hari.

Sempat terjadi diskusi singkat antar anggota yang saat itu ada di sekretariat. Namun kemudian semua menyepakati, untuk tidak mengada-ada dalammenyambut tim dan orang nomor satu di Dewan Pers itu.

“The camera is an instrument that teaches people how to see without a camera” – Dorothea Lange

Sejumlah pengurus dan anggota PFI Kepri melakukan foto bersama Tim Verifikasi dan Ketua Dewan Pers. FOTO : PELANTAR.ID/Joko Sulistyo

Realitas harian pemburu cahaya akhirnya menang dalam pergulatan. Alih-alih menyediakan karpet dan mendekorasi ruangan sekretariat, mereka justru menggeser kayu bekas gulungan kabel yang telah dilapisi bahan plastik bekas baliho ke tengah ruangan. Sejumlah botol air mineral ditata bersama kue-kue kering dan berbagai gorengan di atasnya.

Tim berkeliling ruangan melihat sejumlah karya foto jurnalistik yang dibingkai dan ditempelkan ke tembok. Secara cermat, mereka juga memeriksa tempelan berisi struktur organisasi, pamflet dan setumpuk kertas-kertas di atas satu-satunya meja yang ada di sekretariat PFI Kepri.

Suasana terasa kaku dan kikuk, sampai saat Yosep mengajak para anggota PFI dan tim untuk duduk lesehan di lantai, melingkari meja, tanpa karpet ataupun alas lainnya. Satu demi satu pertanyaan dilontarkan tim verifikator yang dijawab secara bergantian oleh para fotojurnalis. Masing-masing anggota yang hadir ditanya asal media tempat bernaung dan diminta menceritakan kegiatan organisasi.

Kebekuan mulai lumer saat Yosep tanpa sungkan mencomot sepotong tahu goreng yang dihidangkan, sambil berdiskusi tentang kemajuan dan kesetaraan pers Indonesia. Dia aktif menanyakan ativitas harian para anggota dengan nada kalem, penuh keakraban.

Meskipun terbilang jarang memiliki kedekatan khusus, para fotojurnalis di Kepri justru kerap memiliki tempat tersendiri di mata sejumlah pejabat. Berbagai kegiatan yang melibatkan instansi pemerintah semisal pameran, pelatihan fotografi kehumasan hingga pembuatan katalog foto dan buku diakui Yosep merupakan pencapaian penting, berdasar pada penghargaan profesi dan keahlian.

“Kartu Anggota PFI ini laku tidak untuk melanggar lampu merah?,” seloroh Yosep dengan nada bercanda.

Tanya-jawab soalan jurnalistik dan jurnalisme mengalir tanpa moderasi di ruangan sekretariat. Belasan anggota PFI Kepri dari berbagai media di Batam saling menimpali pendapat satu sama lain. Kehadiran Yosep tidak disia-siakan oleh para pewarta foto untuk mengulik berbagai isu, terutama yang menyangkut jurnalis foto.

“Jika proses verifikasi selesai, kemudian PFI bergabung ke Dewan Pers, maka nanti akan ada sertifikasi untuk kompetensi pewarta foto,” kata Yosep.

Menurut dia, foto sebagai salah satu produk jurnalistik selama ini masih berada di luar naungan. Tak ayal, sejumlah pewarta foto memandang tidak terlalu penting uji kompetensi. Pasalnya, kompeten atau tidak, sejauh ini fotojurnalis dalam melakukan peliputan memiliki bukti paling sahih terkait orisinalitas karya.

Sementara menyangkut etik, secara internal PFI memiliki sejumlah kode yang mesti dipatuhi oleh anggota saat bekerja mendapatkan foto. Justru pewarta foto Kepri justru balik bertanya tujuan yang akan dicapai melalui proses verifikasi organisasi. Mereka menyoal permasalahan seputar hak cipta dan peran Dewan Pers jika terjadi sengketa.

“Hak cipta karya foto sudah jelas diatur dalam Undang-Undang 28 Tahun 2014, apakah nanti jika terjadi pencideraan di bawa ke delik pers,?” tanya Aulia Ichsan, salah satu anggota PFI yang hadir.

Yosep menyebut perlu penataan lebih lanjut untuk Dewan Pers menaungi PFI. Selepas verifikasi faktual, dewan akan menggodok formulasi uji kompetensi fotojurnalis bersama PFI dan mengagendakan Training of Trainer (ToT) untuk menciptakan penguji. Ke depan, PFI akan diberikan wewenang untuk menguji kompetensi secara internal dan pengesahannya akan dilakukan oleh Dewan Pers.

“Kami sedang berupaya untuk mencari pengakuan sertifikasi kompetensi ke level internasional. Tujuannya, jika jurnalis bersertifikat itu pindah ke negara lain, atau dipekerjakan oleh pers asing baik di dalam maupun luar negeri, standar penggajiannya akan mengikuti level internasional,” tutur Yosep.

Pers di Perbatasan dan Organisasi Miskin

Aulia Ichsan (kanan) saat meliput lokasi kerusuhan di Little India, Singapura, tahun 2013 silam. Foto : PELANTAR.ID/Joko Sulistyo

Salah satu topik bahasan singkat yang mengemuka di ruang sekretariat PFI Kepri adalah terkait praktik peliputan lintas batas negara. Sebagai jurnalis di wilayah yang bertetangga dengan negara lain, pewarta foto di Batam kerap menghadapi kendala saat harus mengejar isu ke luar negeri.

Aulia Ichsan pernah memiliki pengalaman buruk saat meliput ke negara tetangga. Dia ditahan oleh imigrasi Singapura saat akan meliput kerusuhan di negara itu. Meskipun akhirnya dilepas, namun penahanan selama beberapa jam dengan dalih pemeriksaan narkotika itu merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan.

Kepada Yosep, Icank, demikian Aulia biasa disapa mengeluhkan dirinya sampai kehilangan momentum karena harus menjalani tes urine dan pemeriksaan terhadap seluruh barang bawaannya di pos imigrasi.

“Jadi kalau kita sudah sejajar, diakui kompeten secara internasional, apakah menjamin akan ada solusi untuk masalah penghalangan seperti yang kami berdua alami.?” tanya Icank.

Yosep tidak menampik, persoalan pers perbatasan menjadi rumit karena terbentur aturan masing-masing negara. Namun dia menyebut akan berupaya mencari solusi, karena saat ini batasan wilayah kerja sudah menipis akibat semakin luasnya isu-isu global yang harus diliput oleh pekerja media.

Persoalan isu global bukan berdiri sendiri. Para pewarta foto menyadari tuntutan dunia kerja memaksa mereka harus bersaing ketat dan meningkatkan wawasan, demi mempertajam perspektif. Immanuel Sebayang mengatakan, selain harus bersaing dengan angkatan baru, pekerja media juga perlu bersiap menghadapi efek dari penerapa pasar bebas ASEAN.

“Bukan tidak mungkin suatu hari kita harus bersaing dengan fotografer dari negara tetangga. Jika sertifikasi kompetensi itu dapat menjadi ukuran, bolehlah kita bersaing di negeri orang juga,” tutur Immanuel optimistis.

Senada, Argianto menyatakan Kepri menyambut baik upaya memasukkan unsur jurnalis foto ke Dewan Pers. Sebagai titik permulaan untuk target 500 anggota tervalidasi, PFI Kepri berharap setelah bergabung organisasi pewarta foto akan lebih memiliki posisi tawar untuk memproteksi anggotanya dalam menjalankan tugas.

“Jadi kalau terjadi peristiwa seperti waktu saya ditampar oknum polisi saat motret, kita punya posisi lebih kuat. Itu proteksi juga,” ungkap Argianto.

Pewarta Foto PELANTAR.ID Joko Sulistyo tiarap untuk menghindari terkena peluru nyasar saat bentrokan aparat di kawasan Tembesi, beberapa waktu lalu. Foto : Argianto DA Nugroho

Enampuluh menit telah berlalu, Yosep kemudian berpamitan dan menyalami seluruh anggota PFI Kepri yang hadir di ruangan itu.

“Nanti kalau sudah jadi konstituen, PFI dapat mengadirkan Dewan Pers untuk kegiatan semisal seminar atau workshop, terutama yang berkait dengan kemajuan pers. Santai saja, itu gratis, tidak perlu mikir transportasi dan akomodasi,” kata Yosep seraya menjabat tangan para anggota secara bergantian.

Ungkapan perpisahan dari Ketua Dewan Pers itu diakui cukup melegakan. Pasalnya sebelum hadir ke sekretariat, sejumlah anggota PFI mendapatkan informasi dari banyak pihak yang menyebut perlunya anggaran khusus demi memuluskan proses verifikasi faktual. Tak jarang sejumlah media atau organisasi menyediakan dana tambahan untuk menghibur tim penilai.

“Untunglah bapak itu berjiwa orang lapangan, ngerti dia PFI tak sekaya organisasi sebelah,” seloroh seorang anggota saat mobil yang ditumpangi rombongan tim verifikasi menghilang di tikungan kompleks perumahan.

Penilaian selesai, pemeriksaan berkas berjalan setengah. PFI Kepri masih memiliki pekerjaan melengkapi berkas yang belum terekam oleh tim. Lolos atau tidaknya PFI menjadi konstituen Dewan Pers tidak tergantung verifikasi dari satu cabang, namun setidaknya Kepri telah memulai perjalanan terjal menuju kesejajaran fotojurnalis.

Joko Sulistyo

Foto Utama : PFI Kepri/Cecep Mulyana

Iklan