pelantar.id – Sektor pertanian di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau menggeliat. Daerah itu mulai mengekspor produk buah lokal berupa nanas dan pisang ke luar negeri yakni Singapura.

 

Ekspor perdana produk buah lokal Karimun ke Singapura ditandai dengan pengiriman 10 ton nanas dan 1 ton pisang emas di gudang packing nanas , Pasar Tanjungberlian, Kecamatan Kundur, Sabtu (20/10). Dalam ekspor perdana itu, Pemerintah Kabupaten Karimun bekerja sama dengan eksportir dari Bandung, Jawa Barat yaitu PT Alamanda Sejati Utama.

“Tahap awal, ada 10 ton nanas dan satu ton pisang emas setiap minggunya yang akan dikirim,” kata Dirjen Hortiluktura Kementerian Pertanian RI, Suwandi yang menghadiri peluncuran ekspor perdana tersebut.

Suwandi mengatakan, tahap selanjutnya volume ekspor akan naik menjadi 20 ton per minggu. Untuk memenuhi kebutuhan ekspor buah-buahan tersebut, sudah ada 600 hektare lahan milik petani di Pulau Kundur.

Saat ini, dari 600 hektare lahan yang ditanami nanas dan pisang emas, baru sekitar 130 hektare yang dipanen. Nantinya akan diatur jarak waktu penanaman, sehingga akan terus berkelanjutan setiap minggunya untuk dipasok ke Singapura.

“Ekspor perdana ini terwujud setelah melalui ebelumnya memang melalui beberapa kali pertemuan agribisnis bersama Singapura. Sudah disepakati untuk memberikan kemudahan dan percepatan ekspor sayuran dan buah-buahan Indonesia terutama dari daerah perbatasan. Kemudian juga didukung oleh Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia (ASBI), yang salah satu anggotanya adalah PT Alamanda Sejati Utama, yang akan mengirimkan nanas Kundur ini ke Singapura,” ujarnya.

Bupati Karimun, Aunur Rafiq (topi putih) meninjau proses pencucian nanas yang akan diekspor ke Singapura di Pasar Tanjungerlian, Kundur, Sabtu (20/10).
Foto:PELANTAR/Abdul Gani

Menurut Suwandi, pemerintah pusat akan membantu proses pembenihan melaui balai penelitian buah tropika dari solok, kemudian Balai Besar Pascapanen. Termasuk juga bantuan peralatan pra dan pascapanen beserta pupuk.

“Nilai ekspornya cukup tinggi. Satu kilogram buah nanas petani dihargai Rp2.500. Hitung saja berapa rupiah itu kalau 10 ton, dan akan ditingkatkan jadi 20 ton per minggu,” katanya.

Bupati Karimun, Aunur Rafiq mengatakan, saat ini pemerintah telah mengumpulkan para petani nanas di Pulau Kundur dari tiga Kecamatan, yakni Kecamatan Kundur, Kecamatan Kundur Utara dan Kecamatan Kundur Barat.

“Areal gudang dan pembersihan buah dikelola oleh koperasi nanas dari petani. Gudangnya memang di sini tidak mencukupi, tapi tahap awal memanfaatkan gudang pasar untuk meletakkan buah. Kami sudah menganggarkan tahun ini untuk penyediaan fasiltias gudang di tahun depan. Singapura menyatakan siap menampung berapapun nanas yang kita kirim, jadi sebanyak-banyaknya pun akan mereka akan beli,” kata Rafiq.

Ia mengatakan, sebenarnya ini bukan kali Karimun mengekspor nanas ke Singapura. Pada tahun 2003, hal itu sudah pernah dilakukan. Namun, terhenti karena ada beberapa kendala.

“Mudah-mudahan tidak ada yang ketiga, ini yang kedua dan seterusnya berjalan lancar,” ujar Rafiq.

Baca Juga : Industri Shipyard Lesu, Investasi di Karimun Turun

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Karimun, M Affan mengatakan, sejak ditetapkannya tiga kabupaten di Provinsi Kepri sebagai lumbung pangan nasional, yang berorientasi ekspor di wilayah perbatasan, Karimun menyatakan kesiapannya untuk mengekspor nanas ke Singapura.

“Sampailah pada hari ini kita luncurkan ekspor perdana. Memang panjang sekali lika likunya. Sudah beberapa eksportir didatangkan, tapi hanya Pak Komar selaku eksportir dari PT Alamanda Sejati Utama yang komitmen. Ini sebagai upaya mencari sumber ekonomi baru di Karimun, sehingga petani lebih giat lagi dalam berusaha tani,” katanya.

 

Reporter : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna