Pelantar.id – Hampir 10 bulan Nici tidak digaji oleh perusahaannya. Ia bekerja sebagai jurnalis di satu media online di Kepulauan Riau selama 4 tahun.

Ia memutuskan berhenti bulan Oktober lalu karena gaji yang katanya akan dirapel tidak kunjung dibayarkan.

Berat memang bagi Nici, apalagi ia sudah bekeluarga dan memutuskan berhenti saat wabah pandemi yang tak usai-usai.

Memang masalah gaji yang tidak dibayarkan tersebut terjadi sebelum pandemi.

Namun, baginya berhenti dalam situasi ini juga membuatnya kesulitan dan berdampak pada ruang geraknya untuk bekerja.

”Dilema juga, pergerakan keluar rumah jadi terbatas, karena takut membahayakan diri, takut merambat ke anak saya yang masih balita,” kata dia.

Saat ini Nici sudah mendapatkan solusi untuk pekerjaan penggantinya, tapi tetap saja COVID-19 masih berdampak pada ekonomi keluarganya.

“Terbatasnya kegiatan keluar rumah tentunya berdampak pada ekonomi keluarga. Seringnya beraktifitas di rumah juga membuat pekerjaan luar dan pekerjaan rumah harus dikerjakan bersamaan,” ujar Nici.

Nici ternyata tidak sendiri. Adalah Juli, jurnalis perempuan lainnya di Kepri yang juga merasakan dampak COVID-19 secara langsung terhadap pekerjaannya.

Juli bekerja sebagai jurnalis cetak pada perusahan terbilang besar di Kepri.

Dia terpaksa disuruh mengundurkan diri karena alasan perusahaan tidak melanjutkan kontrak kerjanya.

“Ya alasannya perusahaan gak mau mempermanenkan kami, karena sudah menjadi aturan dari sana,” ujar Juli.

Selain itu dampak COVID-19 juga menambah alasan bagi perusahaan untuk memberhentikan dia.

“Iya itu juga menjadi alasan,” kata dia.

Berbeda dengan Nici, Juli yang juga sudah bekeluarga saat ini masih menganggur. Belum terpikir untuk kembali melanjutkan bekerja sebagai jurnalis karena pertimbangan anak.

“Belum tahu, karena masih memikirkan menjaga anak di rumah,” ujar dia.

 

Perempuan memilih untuk mengalah.

Leni, Nici hanya beberapa contoh perempuan yang terdampak pandemi dan dirugikan perusahaan tempat mereka bekerja.

Ketidakberdayaan untuk melawan dan membiarkan ketidakadilan, hingga akhirnya berujung pada kerugian bagi mereka; bersedia diberhentikan.

Tampaknya mengundurkan diri menjadi solusi karena mereka tidak tahu apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memperjuangkan hak di tempat kerja, terutama bagi jurnalis di daerah.

Selain itu, sebagai perempuan mereka lebih memilih mengalah ketimbang harus protes atau menuntut perusahaan. Seperti yang dikatakan Nici, “malas mau ribut.”

Belum lagi selama ini gaji yang diterima sangat rendah. Seperti diketahui, gaji jurnalis daerah seperti di Kab. Karimun dan Batam masih ditemui dibayar di bawah UMK.

Menurut pengakuan Nici, mereka hanya digaji sekitar 1-1,5 juta.

Besaran gaji tersebut tentu masih kurang mencukupi apalagi bagi mereka yang sudah bekeluarga.

Berbagai kondisi itu tentu saja dapat memberatkan perempuan.

Masalah di tempat kerja, keluarga dan situasi lingkungan yang belum kondusif dari virus, adalah kompleksitas yang menggenapkan beban perempuan di masa pandemi.

Mereka sebaiknya bagaimana? umumnya perempuan lebih memilih diam dan tetap mengerjakan semua bebannya itu.