Pelantar.id – Otoritas WhatsApp mengkhawatirkan penggunanya akan menggunakan aplikasi tersebut. Lantaran menilai kurang antusiasnya penggunan bila ada pembaharuan terkini dari WhatsApp.

Pembaruan yang ditakutkan semua orang disebut ‘iklan status’, yang akan muncul di antara pembaruan status. Tab Status secara efektif adalah versi Snapchat Story, tempat pengguna dapat memosting video, gambar, atau GIF yang hilang setelah 24 jam.

Facebook mengatakan bahwa 450 juta basis pengguna WhatsApp saat ini menggunakan halaman Status. Ini mendorong WABetaInfo, sebuah layanan yang menganalisis versi awal kode WhatsApp bercuit.

“Sepertinya semua orang meninggalkan sebelum WhatsApp memiliki iklan status. Satu lagi: Setelah Jan dan Brian (pendiri), Neeraj Arora (eksekutif bisnis) meninggalkan WhatsApp. Terima kasih atas pekerjaanmu,” tulis WABetaInfo dikutip dari Metro yang dikutip dari merdeka.com.

Iklan akan muncul di fitur Status mulai tahun 2019. Hal ini diungkap pendirinys, Brian Acto, yang mengatakan itu salah satu alasan dia meninggalkan perusahaan.

Kemunculan iklan di Whatsup memang sudah diprediksi ketika WhatsApp dibeli oleh Facebook pada Februari 2014. Pembaharuan tersebut tentunya akan mempengaruhi pengguna karena Facebook memang berencana menjadikan WhatsApp sebagai ladang duit mereka.

Pun rencana pemasangan iklan tersebut tak hanya membuat pengguna tak betah nantinya tapi keputusan itu juga membuat para petinggi WhatsApp geram dan mereka memilih meninggalkan perusahaan.

Pada Mei 2018, pendiri WhatsApp yang sebelumnya menjabat sebagai CEO, memutuskan hengkang dari Facebook. Lalu dilanjutkan oleh chief business officer WhatsApp, Neeraj Arora, juga ikut mundur dari jabatannya.

===============
dari berbagai sumber