pelantar.id – Sebagai salah satu penyakit yang mematikan, diabetes wajib dihindari. Kenyataannya, penyakit ini bisa saja menyerang semua orang. Selama ini diabetes dikenal sebagai penyakit turunan yang diwariskan ke generasi penerus seperti ayah kepada anak atau ibu kepada anaknya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Primary Care Diabetes Europe mengungkapkan riwayat keluarga menjadi salah satu faktor risiko penting penyebab diabetes. Sebab, faktor ini mencerminkan risiko dari genetik, perilaku, dan lingkungan yang dimiliki bersama pada seluruh anggota keluarga. Karena itulah mereka yang memiliki keturunan diabetes berisiko hingga enam kali lebih tinggi terkena penyakit ini.

Namun dilansir dari Mayo Clinic, ada faktor risiko diabetes yang bisa dialami semua orang, yaitu kegemukan serta penumpukan lemak di perut. Faktor risiko tersebut dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang terkena diabetes terlepas dari apakah seseorang itu memiliki riwayat diabetes maupun tidak.

Meskipun risiko terkena diabetes lebih tinggi, orang yang memiliki keturunan diabetes bisa mencegahnya dengan memilih nutrisi yang tepat. Salah satunya dengan membatasi asupan gula, seperti mengganti gula pasir dengan pemanis rendah kalori. Misalnya mengganti pemanis sehari-hari dengan pemanis rendah kalori. Selain bisa mencegah diabetes, pemanis rendah kalori juga bisa menjaga berat badan dan tidak merusak gigi.

Sementara itu, menurut artikel Increasing Muscle Mass to Improve Metabolism dalam jurnal Adipocyte, menambah massa otot melalui latihan beban dan fitness juga bisa dilakukan untuk mencegah diabetes.Telah banyak studi yang menunjukkan bahwa otot membantu penyerapan gula darah sehingga risiko terkena diabetes pun bisa dikurangi.

Perlu diingat, diabetes memang merupakan penyakit keturunan, tapi belum tentu yang memiliki keturunan diabetes akan mengidap penyakit ini. Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki keturunan diabetes juga belum terjamin bebas dari risiko diabetes. Maka terapkan gaya hidup sehat sejak dini.

Menyerang Usia Muda
Jika selama ini Anda beranggapan bahwa diabetes menyerang generasi orang tua saja, maka sebaiknya ubah pandangan tersebut. Pasalnya, penelitian dari beberapa jurnal ilmiah mengungkapkan diabetes juga menyerang generasi muda.

Dalam jurnal Epidemic Obesity and Type 2 Diabetes in Asia yang dikutip dari The Lance, masyarakat Asia terkena diabetes pada usia yang lebih muda. Selain itu, peningkatan jumlah penderita diabetes di Asia juga tergolong tinggi dibandingkan Amerika Serikat.

Menurut jurnal Diabetes in Asia, laju prevalensi diabetes di Korea Selatan dan Thailand mengalami peningkatan tiga hingga lima kali. Data ini menunjukkan peningkatan yang lebih pesat daripada selama tiga puluh tahun terakhir. Bahkan penderita diabetes usia 35-44 tahun di China meningkat sebanyak 88% pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1994.

Sementara itu, Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 di Indonesia menunjukkan diabetes tidak hanya menyerang pada orang berusia 55 tahun ke atas. Mereka yang berusia 25-34 tahun pun ikut terserang penyakit gula ini. Dibandingkan data pada 2007, jumlah angka pengidap diabetes pada usia muda mengalami peningkatan.

Shaw, Sicree, and Zimmet (2010) juga menyatakan bahwa ada estimasi peningkatan jumlah penderita diabetes usia 20-39 tahun pada beberapa negara, terutama negara berkembang. Salah satunya adalah Indonesia.

Para ahli mengungkapkan fenomena diabetes yang dialami banyak orang disebabkan oleh pilihan makanan dengan kandungan kadar gula yang tinggi. Biasanya hal itu berasal dari makanan dan minuman kemasan Lalu bagaimana jika masih ingin merasakan makanan maupun minuman manis?

Sebenarnya saat ini sudah tersedia pengganti gula pasir berupa pemanis rendah kalori di pasaran. Selain bisa mencegah diabetes di usia muda, konsumsi pemanis rendah kalori juga bisa menjaga berat badan dan kesehatan gigi.

Namun penyakit diabetes juga bisa disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, seperti kurang aktif bergerak. Maka sebaiknya berolahragalah dengan rutin. Misalnya dengan jalan cepat, berlari, bersepeda, berenang, atau membiasakan diri untuk naik turun tangga dibanding naik lift.***

Editor: Yuri B Trisna