pelantar.id – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang masih akan berlangsung tahun depan, semakin hari semakin gaduh. Kini muncul spanduk bertuliskan Jangan Pilih Capres Jahat, yang tersebar di sejumlah titik di Jakarta.

Sebelum munculnya spanduk ini, soal calon pemimpin jahat diutarakan Mahfud MD di acara pembekalan bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya untuk mencegah orang jahat menjadi pemimpin. Namun, ajakannya itu ternyata langsung cepat disambar pihak lain.

Spanduk yang didominasi warna merah dengan tulisan putih “JANGAN PILIH CAPRES JAHAT” dengan gambar ilustrasi surat suara di bagian kanan spanduk itu tersebar di bebera jembatan penyeberangan orang di wilayah Jakarta Pusat. Di antaranya di JPO Cempaka Putih dan Kramat Sentiong. Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku sebagai pemasang spanduk.

Sebelumnya, Mahfud sudah menjelaskan maksud pemimpin jahat yang disampaikannya itu. Lewat akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, ia menjelaskan pernyataan pemimpin jahat dikutipnya dari salah satu perkataan rohaniwan Katolik, Franz Magnis Suseno.

Mahfud meminta masyarakat tidak menafsirkan pernyataan pemimpin jahat dengan liar. Menurutnya, sulit mencari pemimpin yang benar-benar baik karena manusia memiliki kelemahan. Meski begitu, masyarakat tetap harus menggunakan hak pilih dalam pemilu.

“Tak perlu tafsir liar. Negara harus berjalan, pemimpin harus ada. Jadi jangan golput, pilihlah 1 dari alternatif-alternatif yang tersedia. Sulit ada pemimpin yang benar-benar baik karena semua manusia pasti ada kelemahannya. Kata Franz Magnis: Bukan untuk mencari yang ideal tapi untuk menghalangi yang jahat jadi pemimpin,” tulis Mahfud di akun Twitter-nya, Selasa (21/8).

Penjelasan Mahfud MD di akun Twitter-nya.

Ketua DPP NasDem, Irma Suryani Chaniago yakin spanduk itu bermakna positif untuk capres petahana Joko Widodo (Jokowi). Sebab, katanya, Jokowi belum pernah mencelakakan orang.

“Karena Pak Jokowi selama hidup dan berkarier belum pernah mencelakakan orang, jadi tidak mungkin disebut jahat,” kata Irma saat dihubungi.

Sekjen PSI, Raja Juli Antoni memastikan spanduk itu bukan berasal dari koalisi Jokowi-Ma’ruf. Ia mengatakan tak ada instruksi dari Tim Kampanye Nasional terkait spanduk itu.

“Coba tanya kubu sebelah, apa mungkin mereka yang pasang? Kadang di politik ada strategi playing victim. Mudah-mudahan sih enggak, ya,” ujarnya.

PKB juga menilai isi spanduk itu memberikan dampak positif bagi Jokowi. Selain itu, spanduk-spanduk itu disebut menjadi salah satu wahana pencerahan politik untuk masyarakat.

“Iya, dan sebagai pencerahan politik untuk rakyat,” kata Wakil Sekjen PKB, Daniel Johan kepada wartawan.

Sementara, Ketua DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon yakin pemimpin jahat yang dimaksud bukan Prabowo Subianto. Menurut Jansen, berbicara orang baik atau jahat dalam konteks memimpin negara lebih tepat jika dilontarkan kepada orang yang sudah pernah memimpin negara ini, misalnya Jokowi.

“Lebih tepat diujikan ke orang yang sudah memimpin negara ini. Dari kebijakannya itulah kita bisa mengukur negara ini jadi lebih baik atau tidak. Harga-harga lebih murah atau tidak. Nilai tukar rupiah tambah gagah atau malah amblas tak berdaya di depan mata uang asing,” ujar Jansen.

Editor : Yuri B Trisna
Sumber : Detik.com