Luhut Temui Prabowo

pelantar.id – Konstelasi politik jelang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 semakin hangat.

Sejumlah partai politik juga politikus terus memanaskan mesin politiknya. Terakhir, publik diramaikan dengan kopi darat (kopdar) antara Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Ketua Umum Partai Gerindra di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Jumat (6/4).

Pertemuan itu langsung menuai banyak tanggapan. Pasalnya, saat ini Luhut tercatat sebagai bagian dari perahu pemerintah, sementara Prabowo berada di kubu oposisi. Luhut pun dikenal sebagai pendukung yang masuk tim inti Joko Widodo (Jokowi), baik ketika menjadi rival Prabowo pada Pilpres 2014 maupun saat maju kembali pada Pilpres 2019 nanti. Adapun dalam pertemuan kedua jenderal Purnwirawan TNI itu, Luhut menyarankan agar Prabowo maju menjadi calon presiden (capres) 2019.

Adi Prayitno, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah menilai, dorongan Luhut agar Prabowo maju ke Pilpres 2019 memiliki banyak tafsiran. Selain dukungan sebagai seorang teman, dorongan itu bisa juga diartikan dalam konteks melemahkan Prabowo. Menurut dia, Prabowo masih memiliki banyak kekurangan apabila benar ingin maju dan melawan Jokowi.

“Secara elektabilitas, beliau masih rendah dibanding Jokowi. Persiapan logistik juga lebih sedikit pun dengan dukungan dari partai politik. Masih banyak kekurangannya,” katanya di Jakarta, Minggu (8/4) lalu.

Menurut Adi, dengan kekurangan tersebut, Prabowo terbilang mudah dikalahkan oleh Jokowi. Karena itu, saat pihak pemerintahan, termasuk Luhut memberikan dukungan, hal itu patut dikaji kembali. Tidak menutup kemungkinan bahwa dukungan itu disampaikan sebagai strategi dan upaya memuluskan jalan Jokowi memenangi Pilpres 2019.

Adi mengatakan, dalam dinamika politik, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, termasuk skenario tersebut.

“Jangan-jangan, dukungan Luhut itu sebagai bagian dari strategi mengalahkannya. Seperti diketahui, Luhut adalah salah satu panglima pemenangan dan garda terdepan Jokowi,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini.

Dengan kemungkinan itu, Adi melihat, Prabowo dan pendukungnya harus mengkaji lagi secara matang apakah dirinya akan maju atau bertindak sebagai king maker. Apabila tetap ingin bertanding secara langsung, Prabowo harus menyadari bahwa Jokowi, masih berada di posisi yang lebih atas dibandingkan dirinya.

Siap Nyapres

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menegaskan Prabowo Subianto telah telah siap dan bersedia maju sebagai calon presiden (capres) dan siap untuk bersaing kembali dengan Jokowi di Pilpres 2019. Fadli menepis anggapan elektabilitas Prabowo berada jauh di bawah Jokowi. Ia pun membantah kondisi itu menjadi pertimbangan Gerindra belum mendeklarasikan Prabowo sebagai capres untuk Pilpres 2019.

“Kalau kita lihat justru sebaliknya ya, semakin lama semakin naik gitu ya. Justru yang petahana semakin lama semakin turun. 100 persen Prabowo siap, tidak ada rasa galau atau apa itu enggak ada. Saya baru bertemu kemarin,” kata Fadli di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (9/4).

Menurut Fadli, Gerindra belum mendeklarasikan Prabowo sebagai capres karena masih menunggu waktu yang tepat. Dengan deklarasi itu, Fadli menegaskan tidak ada rencana Partai Gerindra mengajukan calon lain selain Prabowo.

Menurut dia, Partai Gerindra menilai Prabowo sebagai kandidat yang paling siap dan mempunyai elektabilitas tinggi. “Saya kira semua kader Gerindra mendukung Prabowo maju, tidak ada yang terbelah. Tidak ada berpendapat Pak Prabowo jadi king maker, kita solid kok,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo mengatakan, Partai Gerindra masih mempertimbangkan sejumlah hal sebelum mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019. Menurut dia, Gerindra masih mempertimbangkan faktor kesehatan dan logistik sebelum memastikan mengusung Prabowo Subianto sebagai capres.

Ketua Umum DPP partai Golkar Airlangga Hartarto menganggap pertemuan antara Prabowo dengan Luhut sebagai suatu hal yang biasa. Terlebih, keduanya sama-sama tokoh militer.

“Ya biasa saja. Tokoh-tokoh militer bertemu ya biasa,” katanya.

Dia pun tak mempermasalahkan jika salah satu yang dibicarakan keduanya berkait dengan peta perpolitikan saat ini. Menurutnya, lobi-lobi politik memang masih perlu diterus dilakukan.

“Lobi-lobi jalan terus, ya silakan saja,” ujarnya.

Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini menambahkan, pertemuan antara Luhut dengan Prabowo memang tak bisa dilepaskan dari tahun politik 2018, sekaligus menjadi ancang-ancang untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ia berharap, komunikasi antara Luhut dan Prabowo itu diharapkan dapat lebih mencairkan hubungan antara pihak Jokowi dan Prabowo sebagai dua tokoh yang paling memungkinkan saling berhadapan sebagai calon presiden di Pilpres 2019.

“Pertemuan tokoh ini penting. Pasti selain pertemuan silaturahmi dua orang sahabat lama yang sama-sama dari militer, tentu juga punya implikasi yang bisa ditafsirkan secara politik, apalagi Pak Luhut dikenal sebagai orang yang dekat dengan Pak Jokowi,” katanya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto. Ia memandang pertemuan Luhut dan Prabowo sebagai bentuk silaturahmi antartokoh, meskipun sesama lawan politik. Karenanya, pertemuan tersebut layak disyukuri lantaran dapat meredakan tensi ketegangan politik jelang Pilpres 2019.

“Pertemuan itu bagus, apapun kita harus berdialog jangan sampai ada ketegangan di antara pemimpin yang memberi energi negatif kepada bangsa ini,” ujar Hasto.

Indonesia Bubar

Ditemui wartawan usai menghadiri acara Golkar di Hotel Red Top, Pecenongan, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4), Luhut mengakui salah satu yang dibahas dengan Prabowo dalam pertemuan itu adalah soal Pilpres 2019. Saat kopdar itu, Luhut pun mempersilakan Prabowo untuk maju di Pilpres 2019, melawan Jokowi.

“Malah saya bilang Pak Prabowo maju saja. Dia lagi mempersiapkan dirinya untuk maju,” katanya.

Menurut Luhut, ia juga dicurhati Prabowo soal alasan belum mendeklarasikan diri sebagai calon presiden (capres) 2019. Namun Luhut membantah mendorong Prabowo maju sebagai capres.

“Ya seperti yang beliau sampaikan di publik kan jelas. Beliau masih menghitung dengan cermat kapan mau melakukan deklarasi. Biar saja, beliau kalau beliau mau maju ya bagus,” katanya.

Pertemuan itu juga menyinggung soal prediksi Indonesia bubar pada 2030 dalam novel Ghost Fleet karangan August Cole dan P W Singer. Menurut Luhut, apa yang disampaikan Prabowo itu sejatinya baik, untuk mengingatkan semua pihak agar lebih waspada.

“Tapi bagus apa yang disampaikan Pak Prabowo. Mengingatkan pada kita semua waspada. Anything would happen, kalau kita enggak hati-hati. Kita enggak boleh geer (gede rasa) atau merasa paling hebat,” ucapnya.

Namun dia berpesan kepada Prabowo untuk optimistis menghadapi hari depan. Luhut menegaskan, pertemuan dengan mantan komandan Jenderal Kopassus itu bukan karena diutus Jokowi. Sebelumnya, ia sudah sering bertemu dengan Prabowo.

“Saya tuh dengan Pak Prabowo teman lama, kami sering bertemu kok. Saya ketemu teman masa enggak boleh. Masa ketemu gitu saja mesti utusan presiden?” kata politikus senior Partai Golkar ini.

Lalu bagaimana respon Jokowi atas pertemuan itu? Menurut Jokowi, pertemuan keduanya merupakan hal biasa karena Luhut dan Prabowo merupakan kawan dekat.

“Jadi tiap hari ketemu mereka. Tiap Minggu pasti ketemu,” ujarnya di Pesanggarahan Tenjoresmi, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Minggu (8/4).

Jokowi menilai tidak ada hal yang aneh dari pertemuan dua tokoh tersebut. Keduanya merupakan teman dekat dan sama-sama pernah bertugas di TNI. Ketika dikonfirmasi apakah Jokowi menitipkan pesan untuk Prabowo, Jokowi tak menjawab. “Ya, tiap hari ketemu,” katanya.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak tahu isi pertemuan tersebut. “Jadi tiap hari ketemu mereka, tiap minggu pasti ketemu, ya ketemu ngomongnya apa, ya tanya ke Pak Luhut,” kata dia.

Presiden Joko Widodo berada di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat untuk melakukan kunjungan kerja. Kunjungan kerja itu tampak istimewa karena kepala negara mengendarai sepeda motor Royal Enfield Bullet 350 cc yang dimodifikasi bergaya chopperland dari Kantor Kecamatan Bantar Gadung, Kabupaten Sukabumi menuju Desa Pasir Suren dan Desa Citarik di Kecamatan Pelabuhanratu sejauh 30 kilometer.

Agenda kunjungan Presiden Jokowi itu adalah untuk meninjau penyerahan gizi makanan bagi ibu hamil dan balita serta meninjau proyek perbaikan irigasi dan tembok penahan tanah. Selanjutnya, di Desa Citarik, Kabupaten Sukabumi, Presiden meninjau implementasi penyerapan Dana Desa Citarik 2018 senilai total Rp771 juta. Tahap awal pembangunan akan membuat kolam retensi dan infrastruktur pembangunan penahan tanah longsor. ***

Editor : Yuri B Trisna