pelantar.id – Pendapatan dari Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) di Kabupaten Karimun turun drastis. Padahal, beberapa tahun sebelumnya meraup penghasilan sampai Rp9 Milia. Sementara tahun ini hanya mampu diangka Rp1 Miliar lebih saja.

Bupati Karimun Aunur Rafiq mengatakan, penurunan pendapatan dari pekerja asing di Kabupaten Karimun itu terjadi karena dampak dari kondisi PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB) yang sepi job dan telah melakukan pengurangan karyawan, termasuk pekerja ekspatriat sejak tahun 2017 lalu.

“Tahun 2016 kemarin kita masih mampu mendapatkan Rp9 Miliar, tapi makin ke sini makin berkurang jadi Rp7 Miliar, terus sampai saat ini hanya tinggal Rp1 miliar lebih. Penyebabnya karena jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) juga makin sedikit, awalnya ada ribuan, sekarang hanya tinggal sekitar 300 orang saja, dan itu pun digabung dari beberapa perusahaan yang ada,” kata Rafiq, Selasa (20/11).

Angka 300 TKA yang ada di Kabupaten Karimun itu juga masih di dominasi dari PT Saipem dan PT Timah serta rekanan PT Timah Kundur, dan beberapa perusahaan galangan kapal yang ada. Kata Rafiq, 70 persen dari pendapatan yang bersumber dari IMTA dialokasikan untuk pendidikan atau pelatihan bagi pekerja lokal.

“Kegiatan-kegiatan pelatihan pekerja anak tempatan kan sudah berjalan setiap tahunnya,” tutup Rafiq.

==========

reporter : Abdul Gani