Penulis: H.M Chaniago

Pertama muncul di kota Batam, Rissau membawa gelombang baru terhadap keberagaman musik dan tatanannya

Pelantar.id – Dalam laman resmi bandcamp mereka, lagu berjudul Kalah berada di track awal. Coba putar dan dengarkan.

Sementara waktu perlahan memutar nadanya, lembut suara perempuan terdengar membacakan baik-bait puisi diiringi bebunyian gitar.

Luka, tidaklah pernah sehat. Menyengat, mengigit dengan sakit yang teramat. Luka, selalu menghadiahkan sepotong sekat. Tembok menjulang berlapis ego yang agung, Amarah yang menggunung, tak berujung

Begitulah potongan puisi yang perempuan itu bacakan. Sekilas aku mengenal orang di balik suaranya, karena sesekali kami pernah berbincang ketika bertemu. Sementara, puisi itu, tak ubahnya bait-baik kegelisahan, dan di atas itu Rissau berdiri menyenandungkan musik mereka.

Jika Nirmala dari Malaysia mengatakan bahwa musik post-rock bagi mereka tak ubahnya lantunan kesucian surga, maka menurutku shoegaze bagi Rissau adalah nada-nada kegelisahan anak manusia.

Dalam penjabaran singat album pertama mereka Ruang Temu, pun disebutkan nada dan bait dalam album berasal dari setiap orang yang mereka temui, dengan kisah-kisah yang mewarnai detik menuju detik pada setiap detak yang bersua.

Pun juga terkandung tentang perasaan kecewa serta ekspresi bahagia yang silih berganti menghujam hari ke hari, tentang bagaimana setiap dari mereka dapat meneruskan esok, lalu mengisahkannya kembali.

Jika saja Rissau adalah keresahan, maka bagi kita yang mendengarkannya bisa jadi ini adalah romansa tentang keteduhan hati. Menderima segala yang terjadi, yang lambat laun juga akhirnya akan pergi sendiri.

Bisa jadi, keresahan Rissau adalah keresahan kita semua yang hidup di kota industrial bernama Batam, atau hutan metropolitan lainnya. Kemunculan mereka di Batam dengan kuartet shoegaze dan dreamy-experimental sangat layak untuk diapresiasi.

Satu album berjudul Ruang Temu telah mereka publish melalui Agresors Records, berisikan 12 lagu yang bisa dengan bebas untuk langsung kalian didengarkan di kanal resmi bandcamp.

Setidaknya alunan yang mendayu serta sedikit kelam dalam album Ruang Temu ini bisa menjadi rujukan bagi kalian yang ingin mendengarkan musik sembari berkontemplasi.

Link Youtube:

*Foto: Dokumentasi Edy Nst (IG: @ednasution)*