pelantar.id – Puluhan siswa SMP di Pekanbaru, Riau melakukan aksi tak lazim usai menonton video di YouTube. Mereka menyayat tangan sendiri, seperti yang sering dilakukan pecandu narkoba.

Dilansir dari Detik.com, Selasa (2/10), ada 56 siswa SMP di Pekanbaru yang melakukan aksi tersebut.

“Jumlahnya ada 56 siswa yang melakukan sayat tangan. Karena khawatir mereka mengonsumsi narkoba, makanya pihak sekolah meminta bantuan kami untuk melakukan tes urine,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pekanbaru, AKBP Sukito, Selasa (2/10).

Sukito mengatakan, atas permintaan pihak sekolah, BNN kemudian melakukan tes urine terhadap 56 siswa tersebut. Hasilnya,  tidak satu pun dari 56 siswa itu yang terbukti mengonsumsi narkoba.

“Hasilnya negatif, tidak ada terbukti mengonsumsi narkoba,” tegasnya.

Saat ditanya kepada puluhan siswa tersebut, mereka mengaku sering mengonsumsi minuman kemasan plastik bermerek T****do. Berdasarkan pengakuan itu, BNN lantas meminta Balai Pengawasan Obat dan Makanan Riau melakukan uji lab.

“Uji lab itu untuk memastikan apakah dalam minuman tersebut ada mengandung zat bahaya lainnya,” kata Sukito.

Namun, hasil uji lab BPOM menunjukkan bahwa minuman tersebut juga tidak terbukti mengandung zat yang membahayakan. Dengan demikian, disimpulkan aksi sayat tangan puluhan siswa SMP tersebut bukan karena narkoba atau minuman tersebut.

Hasil penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa aksi puluhan siswa itu menyayat tangan sendiri karena terpengaruh sebuah tayangan video di YouTube.

“Para pelajar mengaku mereka melakukan itu (sayat tangan) karena melihat adegan video yang ada di YouTube, mereka lalu menirunya. Jadi tidak ada sama sekali keterkaitan dengan narkoba maupun minuman tersebut,” kata Sukito.

Terus Dimonitor
Kepala Bagian Humas BNN, Kombes Sulistiandriatmoko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/10) malam menyatakan, pihaknya kini terus memonitor ke-56 siswa SMP itu.

“BNN melalui BNN Kota Pekanbaru telah menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan kepala sekolah SMP tersebut dan telah melakukan assesment kepada 56 murid yang dimaksud,” kata Kombes Sulistiandriatmoko.

Ia menegaskan, puluhan siswa SMP itu ternyata hanya mengikuti tren yang sedang viral di media sosial.

“Hasil assesment berikutnya, BNN Kota Pekanbaru mendapatkan informasi bahwa 56 murid tersebut juga mengkonsumsi minuman penyegar, (merek) T,” ujar Sulis.

Menindaklanjuti hal tersebut, BNN Pekanbaru langsung menguji dan mendapatkan hasil sebagian positif pengguna benzo. BNN Pekanbaru juga mengirim sampel produk tersebut ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Riau untuk diuji lebih lanjut apakah mengandung narkotika atau zat adiktif lainnya.

Hasil uji BPOM Riau menerangkan, produk minuman merek T rasa aneka buah tersebut benar terdaftar di Badan POM dan masih berlaku.

“Dari hasil uji laboratorium BPOM sampel minuman tersebut hasilnya negatif benzodiazepim (alprazolam, bromazepam, chloridazepoxide, clobazam, clonazepam, diazepam, eztazolam, lorazepam dan nitrazepam),” kata Sulis.

Ia memastikan, BNN akan berkoordinasi dengan Badan POM Pusat untuk memonitor perkembangan selanjutnya.

“BNN juga memberikan arahan kepada BNN Pekanbaru agar bekerja sama dengan Polri, BBPOM dan instansi terkait untuk terus memonitor perkembangan kasus, dan melakukan upaya-upaya pencegahan agar produk tersebut tidak disalahgunakan di luar ketentuan yang sudah tertera pada kemasan produknya,” ujarnya.

Editor : Yuri B Trisna

Foto ilustrasi pergelangan tangan