Pelantar.id – Belum lama pengumuman Path ditutup, sekarang menyusul Google menutup layanan Google+. Namun penutupan layanan tersebut punya pengecualian. Google+ akan fokus melayani pelanggan disektor bisnis saja.

Apa penyebab perusahaan ini menutup layanannya? Salah satu alasannya adalah karena kurangnya pengguna. Selain itu faktor keamanan juga dikuatirkan pihak google.

Dalam masa kelahirannya, kehadiran Google+ digadang-gadangkan menjadi penantang Facebook. Google+ dirilis pada Juni 2011 yang merupakan jejaring sosial dari Google.

Platform ini berhasil memiliki 10 juta pengguna pada dua minggu pertama peluncuran. Kemudian, angka tersebut bertambah menjadi 25 juta setelah Google+ menjalani waktu sebulan pasca dirilis.

Jumlahnya pun terus bertambah menjadi 40 juta pada Oktober 2011 dan 90 juta pada akhir tahun. Angka yang impresif untuk menunjukkan keseriusannya dalam menantang Facebook.

Google sempat meluncurkan Orkut (2004), Google Friend Connect (2008) dan Google Buzz (2010). Riwayat ketiganya hanya berumur sebentar. Orkut ditutup pada 2014. Google Friend Connect pensiun pada 2012. Sedangkan Google Buzz hanya mampu bertahan selama satu tahun.

Sementara Google+ mampu bertahan dibalik kemudi Vic Gundotra dan Bradley Horowitzdan berhasil menghadirkan ide bernama Circles. Hal tersebut memungkinkan user untuk membuat grup berdasarkan hubungan, seperti keluarga, teman, maupun rekan kerja sehingga obrolan di dalamnya pun akan sesuai dengan orang-orang di dalamnya.

Cara Google dalam memudahkan user untuk membuat grup pun dianggap lebih baik dari Facebook saat itu. Sekadar informasi, media sosial tersebut juga punya sistem organisasi kontak di dalamnya.

Fitur lain yang dihadirkannya adalah Sparks yang membatu penggunanya untuk mencari berita dan informasi sesuai minat. Hangouts pun juga diperkenalkan oleh Google+.

Google+ Mulai Melambat dan akhirnya ditutup

Google+ tidak bertahan lama lantaran banyak kritikan dan keberatan pengguna untuk membuat akun. Kebijakannya yang mengharuskan user untuk menggunakan nama asli menuai kecaman. Selain itu, kurang cakapnya mereka dalam mengurus spam juga mendapat komentar miring.

Selain itu, keputusannya dalam mewajibkan user untuk memiliki akun Google+ ketika hendak bergabung dengan Gmail juga mendapat kritik. Satu yang paling menarik perhatian adalah, Google mewajibkan pengguna YouTube untuk memiliki akun Google+ jika ingin menulis komentar terhadap video yang ditontonnya. Sekali lagi, tindakannya ini menuai kritik pedas.

Di tengah badai tersebut, Hangouts tampak menuju ke masa depan yang lebih cerah dibanding induknya sendiri, yaitu Google+. Pada 2013, platform tersebut tampak mulai kehabisan bensin. Engagement user dinilai minim, dan kurang menjamah banyak pihak. Salah satu alasannya adalah, Google+ dianggap bukan sebagai situs yang ingin dikunjungi oleh orang sebagaimana Facebook, namun lebih seperti lapisan dari layanan lain milik Google.

Pada April 2014, Google+ ditinggal oleh pemimpinnya yaitu Vic Gundotra. Tak lama berselang, tepatnya pada Juli 2014, giliran layanan Hangouts yang keluar dan berdiri sendiri.

Satu yang menarik, Google+ menghapus kebijakan yang mengharuskan user untuk menulis nama asli. Mereka pun juga meminta maaf atas lahirnya peraturan tersebut.

Tahun berikutnya, Google+ terus dipreteli setelah fitur berbagi fotonya menjadi produk sendiri dengan nama Google Photos. Keputusan yang tepat karena pada akhir 2015 platform tersebut sudah memiliki 100 juta pengguna aktif bulanan.

Masih di tahun yang sama, Google+ juga tidak lagi diwajibkan bagi user yang ingin menulis komentar di YouTube. Hal serupa juga dilakukan terhadap Android Gaming dan Play Store pada 2016. Sampai akhirnya pada Oktober 2018, Google+ diumumkan resmi ditutup karena penguna kian lama menghilang.

sumber: liputan6.com