pelantar.id – WhatsApp mengklaim bahwa keamanan berkomunikasi menggunakan aplikasi tersebut menjadi DNA atau bagian yang diutamakan bagi penggunanya.

Melalui teknologi end to end encryptionnya, WhatsApp meyakinkan pengguna bahwa setiap aktivitas komunikasi seperti mengirim pesan (chat), mengirim media (foto/video) aman dan dilindungi privasinya.

Hanya pengguna dan si penerima chat yang tahu, termasuk tidak disalahgunakan oleh WhatsApp. Untuk mengamankan percakapan di WhatsApp, tidak perlu melakukan settingan khusus seperti private message yang dilakukan aplikasi lain, Signal dan Telegram.

Teknologi end to end encrytion yang diterapkan WhatsApp memang dapat melindungi dalam bentuk pesan tetapi tidak bisa melindungi dalam data yang dikirim dalam bentuk screen shot, chat yang diforward dan data yang tersimpan di cloud.

foto: pinterest

Kasus hack atau peretasan yang melalui screen shot ini pernah dialami orang terkaya di dunia, Jeff Benzos. Artinya, pihak ketiga dapat memanfaatkan data yang kita kirim selain chat.

Memang perlu diakui bahwa WhatsApp menjadi aplikasi pesan terbanyak digunakan dan memiliki jangkauan yang luas. Pemerintah dan para pebisnis mengandalkan aplikasi ini untuk berkomunikasi.

Dan ini menjadi alasan mengapa aplikasinya ini mulai rentan digunakan untuk obrolan yang bersifat privasi. Untuk menghindari peretasan, pihak WA umumnya menganjurkan pengguna untuk selalu meng-update aplikasi, sayangnya cara ini sudah begitu kuno untuk dilakukan sekelas aplikasi yang sudah modern.

Peretasan Lain di WhatsApp

Peretasan juga dapat dilakukan melalui panggilan WhatsApp sekalipun pengguna tidak mengangkat ponsel.

Untuk kasus keamanan lainnya, seperti diberitakan Motherboard bahwa baru-baru ini ditemukan tautan obrolan grup di WhatsApp telah bocor ke khalayak.

Undangan itu telah diindeks Google dan membuat undangan tautan ke obrolan grup pribadi itu dapat ditemukan dan tersedia bagi siapa saja yang ingin bergabung.

Menurut Juru bicara Facebook / WhatsApp, Alison Bonny dalam pemberitaan The Verge, “Tautan yang digunakan pengguna yang ingin berbagi secara pribadi dengan orang yang mereka kenal dan percayai tidak boleh diposting di situs web yang dapat diakses publik. Lalu mengapa hal itu malah terjadi?

Google sendiri menolak berkomentar soal ini. Setelah Facebook, WhatsApp memang sedang dipusingkan dengan masalah keamanan. Terutama berawal dari tuduhan retas oleh Arab Saudi ke telepon CEO Amazon, Jeff Bezos pada tahun 2018.

Peretasan tersebut dilaporkan melalui pesan WhatsApp yang terinfeksi malware. Cara peretasan kini masuk pada penggunaan aplikasi yang membawa muatan spyware pada ponsel Android dan iOS melalui panggilan telepon.

Pendiri aplikasi saingan WhatsApp, Telegram, Pavel Durov, dalam Forbes.com mengatakan bahwa WhatsApp sudah berbahaya dan orang harus menghapusnya.

Dalam hal ini Forbes menyebut bahwa WhatsApp saat ini tidak hanya gagal melindungi pesan penggunanya tetapi juga memata-mata data lain dari penggunanya, termasuk foto yang disimpan di ponsel.

eliza
(dr berbagai sumber)